Sayuti Asyathri / Ist

Sayuti Asyathri

Ketika berhadapan dengan kekuatan superpower Amerika dan China, maka negara seperti Singapura pun harus bersuara meminta toleransi negara negara besar agar jangan memaksa mereka harus memilih salah satu satu di antara kedua blok kekuatan tersebut. Singapura meminta agar negara negara Superpower tersebut bisa toleran terhadap negaranya untuk tidak harus berpihak dalam dinamika persaingan Amerika dan China.

Sikap Singapura ini setidaknya bisa menjadi pelajaran pada beberapa tokoh cendekiawan kita yang suka salah kaprah dalam menyuarakan isyu toleransi. Rakyat dan bangsa ini mengharapkan sumbangsih kecendekiaan mereka untuk menyuarakan soal keadilan dan kemanusiaan, namun yang muncul dari mulut dan narasi mereka hanya satu kata yang diulang ulang seperti kaset rusak yakni rakyat selalu diminta untuk toleran.

Sangat mungkin mereka sama sekali tidak paham apa yang mereka bicarakan, mereka tidak sensitif terhadap pemaknaan dari apa yang mereka maksudkan sebagai toleransi dan bersikap toleran.

Kata toleransi itu sebuah kata yang tidak bisa berdiri sendiri, ia memerlukan objek lain untuk memberi makna atas dirinya. Misalnya, ketika ada yang mengatakan, anda harus toleran, maka masih diperlukan kalimat berikutnya untuk menjelaskan, dalam soal apa anda maksudkan saya harus bertoleransi. .Artinya masih diperlukan objek atas kata sifat toleran. Objek itu bisa membentuk sebuah pengertian sederhana atau kompleks, yang menjelaskan makna toleransi dalam aktualitasnya. Sehingga kita bisa mengetahui, apakah yang dimaksud adalalah toleransi dalam sebuah kebijakan hukum yang di dalamnya tersedia ruang untuk diskresi, atau dalam suatu tradisi dan budaya di mana toleransi masih memungkinkan tidak terjadi pelemahan pada jati diri nilai nilai budaya dan kelembagaannya sedemikian sehingga ada timbangan keadilan dalam pemberian toleransi atau toleran terhadap suatu pelanggaran dan ketidakadilan yang di dalamya ada dimensi keterpaksaan.

BACA JUGA :  Presiden Palestina Tegaskan Permukiman Israel Di Wilayah Palestina Tidak Sah

Dalam contoh terakhir, Palestina adalah contoh terbaik ketika toleransi mereka memarjinalkan mereka di tanah mereka sendiri, sehingga bahkan di Tepi Barat yang merupakan wilayah yang tertinggal satu satunya milik mereka selain Gaza.

Kini mereka hanya miliki 18 persen dari wilayah tersebut, sementara Israel menguasai semua sisanya. Padahal putusan PBB setelah perang dengan Israel, mereka berhak atas keseluruhan tanah Tepi Barat.
Artinya dalam kasus Palestina, tanah 18 persen itu adalah hasil dari toleransi mereka terhadap hampir seluruh tanah Palestina yang sebelumnya berada di dalam kekuasaan dan pemilikan mereka. Padahal atas tanah sisa itupun mereka tidak leluasa menggunakannya, mereka berada dalam sebuah penjara di tanah mereka sendiri.

Hal seperti itu juga terjadi dalam berbagai kasus ekspolitasi kolonialisme di wilayah jajahan. Ketika rakyat kalah dan tidak berdaya, maka seruan agar mereka toleran adalah penghinaan terhadap martabat kemanusiaan yang sedang mengalami penistaan dan penzaliman.

BACA JUGA :  Israel Rancang UU Yang Dapat Kebiri┬áKebebasan Pers

Kasus Singapura, adalah sebuah contoh sedehana bahwa toleransi itu adalah seruan dan rintihan yang tidak berdaya pada yang kuat dan berkuasa, yakni permohonan dari lemah terhadap yang kuat. Permintaan dari yang memerlukan sesuatu pada orang yang memilii sesuatu dan miliki kemampuan dalam batas adil untuk memenuhinya. Maka toleransi dibatasi oleh dan berhenti pada batas keadilan. Itulah timbangan toleransi.

Maka wahai para cendekiawan, nurani semesta memohon pada anda, agar gemakan suara meminta dan mengiba toleransi yang anda suarakan itu pada mereka yang kuat, yang miilki ssesuatu dan berada dalam genggamannya sesuatu itu, untuk memberikan pada rakyat yang lemah atas hak haknya secara adil sehingga menyelamatkan rakyat yang lemah dan tertindas.

Sejatinya Itulah tugas suci anda, tugas suci para pemkir merdeka dan rhausanfikir dan para ulil albab yang ditakdirkan miliki denyut hikmat untuk membela kaum tertindas. Tetapi bila anda suarakan permohonan toleransi pada rakyat yang terjajah dan tertindas maka sebenarnya anda sedang berbicara mewakili para penindas dan penzalim yang telah putus syaraf syaraf nuraninya.[***].

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini