Oleh : Melinda Dinisa Nurul Fitri – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor

Kecerdasan sebagai kesanggupan yang membolehkan seseorang itu menyesuaikan diri dan kebolehan dalam memberikan pertimbangan yang kritikal terhadap diri sendiri.

Faktor utama kecerdasan ialah kebolehan dan keupayaan untuk membuat pemahaman dan penilaian terhadap sesuatu situasi dan keadaan yang dihadapi (David Wechsler, 1975).

Sebagian besar orang mengenal orang cerdas ialah orang yang kemampuan kerja otak yang luar biasa. Kecerdasan ini identik dengan nilai prestasi belajar anak disekolah.

Namun, setiap orang mempunyai cara unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang.

Bahkan, mungkin kebanyakan dari orang-orang ternama atau ilmuan adalah orang yang gagal disekolahnya karena masalah teknik pembelajarannya.

Hal ini sebagaimana dikatakan. (Muliawan, 2016) Laurel Schmidt, tokoh pendidikan sekaligus penulis buku seven Times semater (New York: Three Rivers Press, 2001) menyatakan bahwa kecerdasan itu tidak hanya soal mereka yang mempunyai otak cemerlang dan sukses di sekolahnya.

Tetapi, kecerdasan merupakan kumpulan kepingan kemampuan yang ada diberagam bagian otak manusia, bukan hanya satu angka IQ yang kita kenal selama ini. Semua kepingan ini saling terhubung bekerja sama membentuk satu kemampuan khusus.

Sementara pada beberapa orang lain, kepingan-kepingan ini juga bekerja sendiri-sendiri, dan mereka tidak statis. Banyak ditemukan di buku sejarah dipenuhi nama-nama terkenal yang tidak pernah berprestasi di sekolahnya.

Sang pencipta Thomas Edison bahkan dikeluarkan dari kelas oleh gurunya karena dianggap terlalu bodoh untuk bisa vcmmempelajari apapun adapun ilmuan Albert Eisntein baru bisa membaca saat berumur tujuh tahun dan masih banyak yang lainnya.

Contoh diatas menunjukkan bahwa dalam pembelajaran, pendidik hendaknya mengembangkan berbagai jenis kecerdasan terutama pada saat usia dini.

Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak gagal dalam mengembangkan tujuan pembelajaran.semua jeni kecerdasan perlu di rangsang pada diri anak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7-8 tahun).

Pemakaiannya dalam pendidikan bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar.

Pada dasarnya kebanyakan khalayak mengenal kecerdasan adalah suatu kesempurnaan berfikir dan selalu mendapatkan prestasi disekolahnya.

Namun, kecerdasan tak selalu berhubungan dengan tingginya IQ seseorang. Tetapi, kecerdasan itu berkarakter dan setiap orang itu memiliki kecerdasan yang berbeda.

Adapun jenis-jenis kecerdasan itu ada 7 yang di identifikasikan oleh Gardner (1983) adalah :

Pertama, Kecerdasan Linguistik (berkaitan dengan bahasa).

Kecerdasan seseorang yang berhubungan kemampuan memahami, memanfaatkan, dan menggunakan bahasa dengan baik. Mereka yang cerdas dalam hal linguistik umumnya lancar dan pandai berbicara, karena mereka mampu bertutur, berkata-kata, gemar membaca, menulis dan berbicara, dan suka bercengkrama dengan kata-kata.

Mereka sangat mengkhidmati kata-kata bukan hanya untuk makna tersurat dan tersirat. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini juga memiliki keterampilan auditori (berkaitan dengan pendengaran) yang sangat tinggi dan mereka belajar melalui mendengar.

Oleh karena itu, dengan cara auditori mereka dapat menemukan banyak kata-kata baru dan memiliki perkataan-perkataan baru yang ia katakan.

Biasanya orang yang memiliki kecerdasan ini sangat suka menciptakan permainan kata atau senang menceritakan lelucon yang lazimnya merupakan permainan kata atau dalam suatu perdebatan yang sengit.

Dan mereka yang memiliki kecerdasan ini unggul dalam tes-tes IQ dan SAT (student Aptitude Test) tes bakat kecerdasan siswa. Karena mereka adalah kecerdasan yang menjadi sasaran tes ketika pertama kali tes-tes itu dirancang.

Adapun cara terbaik untuk memotivasi mereka adalah sering mengajak mereka berbicara, menyediakan banyak buku bacaan, rekaman, dan sering mempergunakan waktu untuk menulis atau menciptakan karya tulis.

Guru perlu menyediakan media peralatan membuat tulisan selain memberikan mereka dongeng sesekali mengajak mereka keperpustakaan.

Menurut Gardner dalam (Amstrong:2002:7), kecerdasan linguistik meledak pada awal masa kanak-kanak dan tetap bertahan hingga usia lanjut. Maka dari itu, orang yang memiliki kecerdasan ini perlu dilatih sejak dini karena diusia itu adalah usia emas dan baru mengenal kata-kata.

Kedua, Kecerdasan logis-matematis (berkaitan dengan nalar logika dan matematika)

Kecerdasan logis matematis adalah kecerdasan interpesional. Kecerdasan interpesional adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan kemampuan seseorang untuk melihat sesuatu dari sudut pandang lain.

Kecerdasan ini menuntun seseorang untuk memahami, bekerja sama dan berkomunikasi, serta memelihara hubungan baik dengan orang lain.

Sementara itu, Yus (2011:71) mengemukakan bahwa kecerdasan logika matematis adalah kemampuan untuk memahami dasar-dasar operasional yang berhubungan dengan angka, prinsip-prinsip, serta kepekaan melihat pola dan hubungan sebab akibat.

Hal ini dapat dikemukakan bahwa mereka yang memiliki kecerdasan ini ia bersifat kritis karena mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya.

Terakhir, adalah kecerdasan seseorang dalam mengenali dan memahami diri sendiri lebih dari orang lain. Kecerdasan dan kepekaan terhadapat nilai, tujuan dan perasan diri sendiri, tetapi mereka juga cerdas dan mampu menempatkannya dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain.

Jenis kecerdasan ini sering dicirikan sebagai pemikiran kritis, orang dengan kecerdasan ini gemar bekerja dengan data mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta menginterprestasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan.

Mereka melihat dan mencermati adanya pola serta keterkaitan antar data. Mereka suka memecahkan problem (soal) matematis dan memainkan permainan strategi seperti buah dam dan catur.

Mereka cenderung menggunakan berbagai grafik baik untuk menyenangkan diri (sebagai kegemaran) maupun untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.

Kecerdasan logis matematis sering dipandang dan dihargai lebih tinggi dari jenis-jenis kecerdasan lainnya, khususnya dalam masyarakat teknologi dewasa ini. Kecerdasan ini diciri kan sebagai kegiatan otak kiri.

Karena, orang dengan kecerdasan logis-matematis selalu berpikir dan mengambil tindakan denga sempurna dan teliti. Anak-anak dengan kecerdasan logis matematis yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi.

ketiga, Kecerdasan spasial/visual (berkaitan dengan ruang dan gambar)

Kecerdasan visual merupakan kecerdasan dan kemampuan berpikir seseorang dalam bentuk gambar. Mereka juga memiliki pengamatan tinggi.

Yang mana jenis kecerdasan ini mampu melahirkan mahakarya atau masalah rumit yang berkaitan dengan gambar. Karena dengan kemampuannya ahli dalam menangkap warna, arah, dan ruang secara akurat serta mengubah penangkapannya tersebut ke dalam bentuk lain seperti dekorasi, arsitektur, lukisan, patung.

Mereka gemar menggambar, melukis, atau mengukir gagasan-gagasan yang ada dikepala dan sering menyajikan suasana serta perasaan hatinya melalui seni.

Anak yang cerdas dengan visual-spasial ini memiliki kepekaan terhadap warna, garis-garis, bentuk-bentuk, ruang, dan bangunan memiliki kemampuan membayangkan sesuatu, melahirkan ide secara visual dan spasial (Amstrong 2002).

Dan perlu diketahui pula, orang yang memiliki kecerdasan spasial harus dengan metode penyampaian materi dengan contoh yang berkaitan dengan kegiatan atau bahasa yang mudah dipahami dan sering digunakan agar mereka bisa mengerti apa yang akan kita utarakan dan terkadang mereka menggunakan imajinasinya untuk memahami pelajaran yang disampaikan.

Kecerdasan spasial atau visual ini sering dialami dan diungkapan dengan berangan-angan, berimajinasi dan berperan (Lazear,1994). Kecerdasan ini dapat dilukiskan sebagai kegiatan otak kanan.

Keempat, Kecerdasan musikal (berkaitan dengan music, irama, dan bunyi/suara)

Sebagian orang menyebut kecerdasan musikal sebagai kecerdasan ritmik. Orang yang mempunyai kecerdasan ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga musik.

Hal ini bisa dibuktikan dengan kebiasaan mereka yang sering bernyanyi, bersiul, atau bersenandung ketika melakukan aktivitas lain. Anak dengan kecerdasan musikal yang menonjol mudah mengenali dan mengingat nada-nada.

Ia juga dapat mentransformasikan kata-kata menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik. Hal ini Bisa di simpulkan bahwasanya kecerdasan musikal merupakan kecerdasan yang tumbuh paling awal dan muncul secara tidak terduga dibandingkan dengan bidang lain pada inteligensi manusia.

Kecerdasan musikal mampu bertahan sampai usia tua (Gardner 2003); Amstrong 2002:7). Dengan ini, metode pembelajaran yang paling pas untuk kecerdasan musikal yaitu mereka senang sekali dengan nada atau bernyanyi oleh karena itu, sesekali pembelajaran diselingi oleh nada atau nyanyian agar pembelajaran akan tersampaikan dan mudah dipahami oleh mereka.

Kecerdasan musikal mungkin yang paling sedikit dipahami dan diterima oleh kecerdasan yang lain, setidaknya dalam lingkungan akademik, yang paling sedikit didukung diantara jenis-jenis kecerdasan yang lainnya.

Karena anak yang yang suka bersiul, bersenandung, dan bernyanyi disekolah sering kali dianggap bertindak tidak patut atau dianggap mengganggu kelas.

Kelima, Kecerdasan Badani atau Kinestetik (berkaitan dengan badan dan gerak tubuh)

Kecerdasan kinestetik adalah kecerdasan dalam hal olah tubuh (mengolah raga). Kecerdasan seseorang dalam mengolah tubuh dan mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan.

Untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan dan mengubah sesuatu. Anak-anak dengan kecerdasan kinestetik di atas rata-rata, senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.

Menurut Gardner (1983) kecerdasan gerak kinestetik berada di otak serebelum, otak keseimbangan dan motor korteks, kecerdasan ini memiliki wujud relatif bervariasi tergantung pada komponen kekuatan dan fleksibilitas serta dominasi, seperti tari dan olah raga.

Kecerdasan badani atau kinestetik lebih mudah dipahami dari pada kecerdasan musikal karena kita semua umumnya berpengalaman dengan tubuh dan gerak setidaknya dalam beberapa hal dan tingkat.

Itulah perasaan akrab dan nyaman yang dimiliki. Bagaikan seseorang ketika ia bersepeda setelah beberapa tahun tidak melakukannya tubuh kita ingat bagaimana mengendarai sepeda.

Pendidik dapat memfasilitasi peserta didik yang memiliki dominasi kecerdasan ini dengan memberi kesempatan pada mereka untuk bergerak.

Pembelajaran dirancang demikian rupa sehingga peserta didik leluasa bergerak dan mempunyai peluang untuk mengaktualisasikan dirinya secara bebas.

Pembelajaran lebih baik dilakukan di luar kelas seperti berjalan satu kaki, merayap, menari dan lain sebagainya. Karena, pembelajaran seperti itu sangat efektif bagi mereka.

Keenam, Kecerdasan Interpersonal (berkaitan dengan hubungan antar pribadi, sosial)

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain (Amstrong 2002:4). Anak dengan kecerdasan interpersonal yang menonjol memiliki interaksi baik dengan orang lain, pintar menjalani hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi.

Kecerdasan interpersonal juga dikatakan juga sebagai kecerdasan sosial, kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menguntungkan (safari 2005:23).

Kecerdasan ini sangat menyukai dan menikmati bekerja secara berkelompok, belajar sambil berinteraksi dan bekerja sama, juga kerap merasa senang bertindak sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan dan pertikaian baik di sekolah maupun di rumah.

Kecerdasan ini sangat menyukai bermusyawarah sebelum mengambil tindakan dan sangat senang sekali mengikuti organisasi ketika diluar pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami maksud dan perasaan sehingga terjadi hubungan yang harmonis dengan orang lain. Dan kecerdasan ini pun dimiliki oleh orang ekstrovert.

Ketujuh, Kecerdasan Intrapersonal (berkaitan dengan hal-hal yang sangat mempribadi)

Menurut Lwin (2005) kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan memahami diri dari tanggung jawab pada kehidupan sendiri.

Maka dari itu kecerdasan intrapersonal tercermin dalam kesadaran mendalam akan perasaan batin, inilah kecerdasan yang memungkinkan seseorang memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri.

Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri sendiri dalam situasi konflik.

Orang yang memiliki kecerdasan ini umumnya mandiri, tak bergantung pada orang lain, dan yakin dengan pendapat diri yang kuat tentang hal-hal yang kontroversial.

Kecerdasan jenis ini di miliki orang introvert dan sangat percaya diri atas apa pontensi yang mereka miliki, meskipun mereka cerdas dalam memahami diri sendiri, tetapi mereka juga cerdas dan mampu menempatkannya dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain.

Dari penjelasan singkat tersebut kita tahu bahwa kecerdasan seseorang itu tidak hanya berhubungan dengan kecerdasan IQ semata, tidak ada seorang normal pun hanya memiliki satu kecerdasan saja, seperti para sarjana, idiot atau para penderita luka sangat parah yang menghancurkan sebagian otaknya.

Sejatinya hampir setiap orang memiliki jenis kecerdasannya masing-masing atau sebagian orang bahkan mempunyai kesemuanya, walaupun sebagian jauh lebih berkembang dari pada lainnya.

Dengan mengenali jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki siswa maka seorang guru dapat berdampak yang besar atas kehidupan pada setiap yang diasuh atau dididiknya (siswa, anak, remaja bahkan orang dewasa).

Di sisi lain, ada manfaat dari mengenal jenis kecerdasan siswa bagi guru kita bisa mengetahui bagaimana menangani siswa yang responnya terhadap pelajaran yang kurang terstruktur menjadi terstruktur dengan metode-metode sebagai berikut.

Pada dasarnya, dunia pendidikan pun memiliki konsep pembelajaran yang sama. Sebagai contoh, metode pembelajaran unsur motorik tidak selalu sama dengan metode pembelajaran unsur kognitif.

Karakter intrapersonal dengan interpersonal. Sebab meskipun sama-sama tergabung dengan unsur afektif, elemen pembelajaran dengan karakter interpersonal tidak mesti sama denagan elemen pembelajaran intrapersonal.

Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa model pembelajaran afektif selalu melibatkan unsur perasaan, naluri, dan keinginan psikososiologis manusia. Sama hal nya dengan model pembelajaran motorik.

Biasanya kecerdasan ini mengutamakan latihan rutin atau pembiasaan gerak dan olah fisik sangat tidak tepat digunakan untuk kecerdasan kognitif, kecerdasan kognitif lebih tepatnya mengandalkan model pembelajaran membaca pelajaran, memahami suatu konsep atau teori, atau memecahkan masalah yang rumit dalam soal matematika.

Berikutnya, adalah kecerdasan spiritual. Model pembelajaran yang tepat adalah pengenalan, pemahaman, kontemplasi (merenungkan) diri dan lingkungannya sebagai bagian alam semesta.

Dari keberangaman model pembelajaran ini secara langsung atau tidak langsung dapat menumbuhkan semangat belajar mandiri siswa.

Bahkan, dengan pola dan bentuk pembelajara yang bersifat aplikatif, unik, modern, berkesan, nyata, dan menyenangkan ditenggarai dapat menumbuhkan jiwa sportivitas, kreatifitas dan inovatif dalam diri siswa.

Model pembelajaran inilah yang akan diharapkan untuk melahirkan putra dan putri bangsa yang terbaik bagi bangsa dalam segala bidang dengan berbagai jenis kecerdasan yang mereka miliki.

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini