Maiyasyak Johan/dok Pribadi

I.

Republik Rakyat Cina (RRC) adalah sebuah negara yang dulu dikenal sebagai negara Tirai Bambu – tertutup, dan orang hanya bisa melihat dan mengetahui dari kisi-kisi bambu yang ada. Tak ada yang bisa mengenalinya dengan baik. Tapi itu tak hanya untuk negara, juga untuk komunitasnya di perantauan. Sehingga kita mengenal, dimana pun di dunia ini, termasuk di kota-kota besar dunia, kita mengenal ada satu bagian dari setiap kota itu yang disebut sebagai wilayah pecinan. suatu wilayah yang tertutup bagi komunitas non-cina – segala perdagangan gelap, pemalsuan, pemerasan dan kejahatan ada disana – bahkan penegak-penegak hukum Amirika pun tak berhasil menyelisiknya. Hingga akhirnya dilokalisir dalam wilayah Pecinan.

II.

Akhir-akhir ini, ditengah-tengah masyarakat lahir kegelisahan, terutama melihat deras dan besarnya jumlah orang asing yang datang ke Indonesia, khususnya yang berasal dari Cina Daratan. Informasi yang disampai Pemerintah ke publik mereka itu: turis dan rombongan pekerja pada projek-projek investasi Cina yang ada di Indonesia.

Masalah muncul, bukan saja karena penjelasan pemerintah yang tak jelas berapa besar jumlah yang masuk sebagai turis dan berapa besar yang masuk sebagai pekerja – tetapi karena di atas penjelasan itu kemudian ditemukan ada yang bukan turis dan bukan pula bekerja pada projek investasi Cina di Indonesia, melainkan menjadi petani di beberapa tempat di jawa barat, Banten dan lainnya. Bahkan ada yang menjadi pengusaha dengan status dan KTP Indonesia.

Ketika pertanyaan tak terjawab dan masih simpang siur, pertanyaan lain pun muncul. Pertama, jika benar yang masuk itu turis, mengapa arus kembalinya tak terdengar? itu belum dihubungkan dengan waktu libur dan cuti serta ditangkapnya beberapa yang menyusup menjadi petani di sekitar jawa barat dan banten. Kedua, jika untuk projek investasi, mengapa kedatangannya tak pernah berhenti hingga hari ini?.

Pertanyaan pun kemudian menjadi semakin kritis, terutama dilihat dari aspek national security – terutama karena sistem pencatatan kependudukan kita masih sangat jelek dan tidak akurat, ditambah kemudian proses untuk memperoleh KTP yang masih sangat longgar dan mudah ditembus ditingkat kecamatan serta kelurahan, sehingga sangat memudahkan orang asing dari daratan itu menjadi indonesia.

Pertanyaan lainnya: apakah hal ini ada hubungannya dengan kebijakan Pemerintah yang memberi kemudahan untuk memperoleh kewarganegaraan Indonesia bagi orang-orang yang berasal dari Cina Daratan? kita tidak bisa menjawabnya. Tapi mungkin akan merasakan akibatnya.

Secara historis dan akademis, kedatangan atau perpindahan penduduk dari satu tempat ketempat lain merupakan hal yang biasa dan disebut dengan istilah migrasi. Migrasi ini dalam perspektif natural merupakan hal yang biasa. Namun sejarah mencatat, bila migrasi itu di mobilisasi, maka ia akan berubah menjadi sebuah koloni dan dari koloni bisa lahir sebuah negara. Banyak negara di dunia ini lahir dan bermula dari sebuah misi dagang lalu membangun koloni. Satu di antaranya yang paling besar adalah Amirika – dengan cara yang berbeda Singapura serta Australia.

Bahkan sejarah indonesia menjelaskan, konflik awal dan berhasilnya Belanda menjajah Indonesia dimulai dari misi dagang yang diberi setapak tanah utk membangun kantor dagangnya kemudian tumbuh menjadi koloni dan akhirnya menjajah negeri ini.

Karena itu tak heran, belajar dari sejarah tersebut jika kemudian tumbuh kekhawatiran dari Masyarakat melihat fenomena kedatangan orang-orang dari China daratan yang datang bagai dimobilisasi – bukan sekedar turis atau pekerja untuk projek-projek investasi sebagaimana diberitakan – apalagi mau disebut sebagai nature migrasi, tetapi lebih dari itu dilihat dari aspek national security.

Sebab dilihat dari aspek National security, sangat patut bangsa ini waspada. Terutama karena China adalah negara yang menganut sistem wajib meliter, dengan kata lain itu artinya setiap orang Cina daratan yang datang itu pada umumnya adalah meliter. Berdasarkan hal ini terutama untuk kepentingan Keamanan Nasional khususnya mencegah keutuhan Indonesia, cukup beralasan Publik meminta pemerintah dan parlemen mengawasi dengan ketat serta membuat kebijakan yang jelas atas hal ini sebelum semuanya menjadi terlambat.

III.

Masyarakat hingga hari ini seperti menghadapi Politik Tirai Bambu melihat deras dan besarnya jumlah orang China Daratan yang datang ke Indonesia, sehingga tak memiliki kejelasan tentang masalah ini. Semua serba tak jelas – semua samar. Namun sejarah memberitahu berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika kita belajar ke benua asia pada negara-negara yang menjadi tetangganya. Ini sungguh mencemaskan.

Jakarta,
11 Juli 2019

maiyasyak johan

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini