telusur.co.id - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan keprihatinan atas peristiwa 72 siswa (SD dan SMA) di Pondok Kelapa Jakarta Timur yang mengalami keracunan MBG setelah mengkonsumsi Spagheti dari SPPG yang sama. Sekolah baru saja dimulai usai libur Idul Fitri, namun MBG sudah Kembali menelan korban sampai harus menjalan perawatan di Rumah Sakit.
Daya tahan tubuh setiap anak berbeda-beda, bagi yang daya tahan tubuhnya kuat, bisa jadi tidak perlu di rawat di RS meski mereka kemungkinan besar juga mengalami rasa tak nyaman usai mengkonsumsi menu spagheti dari Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut, namun faktanya ada 72 anak di Pondok kelapa yang harus di rawat di RS.
”Menurut FSGI terkait kebijakan MBG, Pemeritah sering kali menggunakan angka untuk menunjukkan keberhasilan. Namun abai menganalisa saat ada kasus keracunan MBG, padahal angka keracunan justru menunjukkan masalah yang semakin serius”, ujar Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Retno menambahkan, pada Februari 2026, jumlah korban keracunan MBG tercatat 1.920 orang. Angka ini memang turun 32,2 persen dibanding Januari yang mencapai 2.835 orang. Jika dilihat secara keseluruhan, dalam dua bulan pertama tahun 2026 jumlah korban sudah mencapai 4.755 orang. Artinya, rata-rata setiap bulan ada 2.377,5 korban.
“Bandingkan dengan data tahun 2025 yang dicatat oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), yang menyebutkan total 20.012 korban sepanjang tahun atau rata-rata 1.667,7 orang per bulan. Berarti ada kenaikan signifikan korban keracunan MBG," ujar Fahriza Marta Tanjung, Ketua Umum FSGI menambahkan.
Fahriza menegaskan, perbandingan ini menunjukkan hal yang mengkhawatirkan. Rata-rata korban per bulan pada 2026 naik 42,56 persen dibanding 2025. Ini bukan kenaikan kecil. Artinya, dalam waktu yang lebih singkat, jumlah korban justru bertambah lebih cepat.
FSGI mengingatkan, bahwa program MBG menyasar anak-anak sekolah, balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Mereka adalah kelompok yang seharusnya dilindungi. Program ini dibuat untuk meningkatkan gizi, tetapi justru menimbulkan risiko kesehatan dalam jumlah besar.
”Jika kasus keracunan terjadi berulang dan melibatkan ribuan orang, berarti ada masalah dalam pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, atau distribusinya,” tegas Fahriza.
Pemerintah tidak cukup hanya membandingkan angka keracunan pada Januari dan Februari 2026. Yang lebih penting adalah melihat tren besarnya. ”Jika rata-rata bulanan tahun ini jauh lebih tinggi daripada tahun lalu, maka jelas ada masalah yang belum diselesaikan oleh BGN”, tegas Retno.
Dia menilai, kasus keracunan MBG terus terjadi dan seharusnya tidak cukup dengan bertanggungjawab membiayai perwatan RS korban. FSGI menegaskan bahwa program yang menyangkut makanan dan Kesehatan harusnya tidak boleh main-main. Setiap korban adalah bukti bahwa ada celah dalam sistem.
FSGI mengingatkan bahwa Angka 4.755 korban dalam dua bulan pertama 2026 bukan sekadar statistik. Itu adalah peringatan. Penurunan persentase dalam 1 atau 2 bulan terakhir karena bulan Ramadhan dan libur idul fitri tidak boleh menutup fakta bahwa secara rata-rata, kondisi justru memburuk. Jika tidak ada perbaikan menyeluruh, risiko ini bisa terus berulang dan semakin besar.
“Ketika jumlahnya ribuan, itu bukan lagi kesalahan kecil, melainkan tanda bahwa evaluasi besar-besaran perlu dilakukan,” pungkas Retno. [Nug]



