telusur.co.id - Oleh : Denny JA
Bayangkan suatu pagi di sebuah supermarket di London. Seorang perempuan paruh baya berdiri cukup lama di depan rak susu. Ia membandingkan harga tiga kotak susu, menghitung uang dalam dompetnya, lalu meletakkan kembali dua di antaranya.
Di tangannya tergenggam daftar belanja yang telah dicoret berkali-kali.
Ia menatap kotak susu yang tersisa, kemudian memandang foto dua anak kecil pada layar teleponnya. Barangkali malam nanti ia harus kembali mengatakan bahwa sarapan akan dibuat lebih sederhana.
Bukan karena ia tidak bekerja keras, melainkan karena kerja keras kini semakin sering kalah oleh angka-angka yang terus naik.
Di luar toko, seorang pria berjas tidur meringkuk di bangku taman. Jas itu masih cukup rapi, seolah menyimpan jejak kehidupan yang pernah normal. Di bawah kepalanya terlipat sebuah map lamaran kerja.
Beberapa meter dari sana, bus kota mengantar para pegawai menuju distrik keuangan, tempat miliaran pound berpindah tangan sebelum makan siang.
Nasib mereka hanya dipisahkan beberapa langkah. Namun dalam kehidupan modern, satu kehilangan pekerjaan, satu tagihan yang tak terbayar, atau satu musim dingin yang terlalu panjang dapat mengubah jarak itu menjadi jurang.
Perempuan itu mungkin tidak pernah mengenal Keir Starmer, Perdana Menteri UK saat itu. Pria berjas itu mungkin tidak pernah mengikuti perdebatan di parlemen.
Namun kehidupan orang-orang seperti merekalah yang pada akhirnya menentukan apakah seorang pemimpin masih dipercaya atau harus meninggalkan kekuasaan.
Pada 20 Juli 2026, Andy Burnham memasuki Downing Street sebagai Perdana Menteri Britania Raya yang baru. Ia menggantikan Keir Starmer setelah kepemimpinan Starmer kehilangan dukungan politik di tengah memburuknya kepercayaan publik.
Pergantian itu bukan sekadar pergantian orang di puncak kekuasaan. Ia menandai berakhirnya sebuah periode ketika semakin banyak warga merasa negara tidak lagi sanggup meringankan beban hidup mereka.
Yang menjatuhkan Starmer bukanlah satu kesalahan fatal. Yang terjadi lebih menyerupai kematian politik karena seribu luka kecil. Setiap luka mungkin masih dapat ditoleransi, tetapi akumulasinya membuat pemerintahan kehilangan daya hidup.
Tekanan biaya hidup menggerus rasa aman keluarga. Tunawisma memperlihatkan rapuhnya perlindungan sosial. Migrasi yang tidak tertata memunculkan kembali pertanyaan mengenai perbatasan, identitas, dan kemampuan negara mengelola perubahan.
Tidak satu pun persoalan itu cukup besar untuk menjatuhkan seorang Perdana Menteri. Namun ketika semuanya datang bersamaan, kepercayaan publik perlahan menghilang.
Demokrasi modern tidak selalu mengganti pemimpin karena skandal besar. Lebih sering seorang pemimpin jatuh ketika rakyat berhenti percaya bahwa hari esok akan lebih ringan daripada hari ini.
Masalah pertama adalah tekanan biaya hidup.
Secara statistik, ekonomi Inggris tidak mengalami keruntuhan. Namun statistik nasional tidak selalu mampu menjelaskan kecemasan yang muncul ketika sebuah keluarga membuka rekening bank pada akhir bulan.
Pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, rata-rata pengeluaran rumah tangga Inggris mencapai £676,60 per minggu. Jumlah itu meningkat sekitar 9 persen secara nominal dibandingkan tahun sebelumnya.
Di balik angka tersebut terdapat jutaan keputusan kecil yang tidak pernah masuk ke dalam pidato politik. Sebuah keluarga mengurangi penggunaan pemanas rumah, membatalkan makan malam di luar, menunda pemeriksaan gigi, atau mengatakan kepada anaknya bahwa tahun ini mereka tidak dapat berlibur.
Bayangkan sebuah keluarga komposit yang kita sebut keluarga David. Kisah ini bukan mengenai satu orang tertentu, melainkan rangkuman pengalaman banyak keluarga pekerja Inggris.
David berusia empat puluh dua tahun dan bekerja sebagai teknisi. Istrinya seorang perawat. Mereka memiliki dua anak yang masih bersekolah.
Lima tahun lalu mereka masih dapat menabung setiap bulan, membawa anak-anak berlibur pada musim panas, dan sesekali menikmati makan malam bersama keluarga.
Kini tagihan listrik meningkat. Harga pangan naik. Ongkos transportasi bertambah. Cicilan rumah ikut membengkak karena suku bunga yang lebih tinggi.
Pada akhir bulan mereka tidak lagi membicarakan rencana membeli mobil baru. Yang mereka perbincangkan adalah apakah anak mereka masih dapat mengikuti kursus musik tanpa mengurangi anggaran belanja.
Mereka masih bekerja. Mereka masih memiliki rumah. Namun hidup berubah menjadi serangkaian kalkulasi yang perlahan menggerogoti rasa aman.
Kemiskinan tidak selalu berarti tidak memiliki apa-apa. Dalam masyarakat modern, kemiskinan juga dapat berarti hilangnya keyakinan bahwa satu musibah tidak akan menghancurkan seluruh kehidupan.
Inilah yang sering disebut para ekonom sebagai cost of living crisis. Yang terancam bukan hanya daya beli, melainkan rasa aman psikologis.
Ketika keluarga terus-menerus hidup dalam kecemasan mengenai tagihan bulan depan, tekanan ekonomi perlahan berubah menjadi tekanan politik.
Politik pada akhirnya tidak diukur oleh pertumbuhan produk domestik bruto. Politik diukur oleh apakah rakyat masih merasa masa depan mereka dapat direncanakan.
Masalah kedua adalah meningkatnya tunawisma.
Di sekitar stasiun kereta, taman kota, lorong pertokoan, dan sudut-sudut pusat London, semakin mudah menemukan orang yang tidur beralaskan kantong tidur tipis. Mereka tidak semuanya pecandu narkoba. Tidak semuanya penganggur kronis. Tidak pula semuanya memilih hidup di jalan.
Pada akhir 2025 terdapat 134.210 rumah tangga di Inggris yang tinggal dalam hunian sementara. Di dalamnya terdapat sekitar 85.800 rumah tangga yang memiliki anak.
Potret resmi pada musim gugur tahun yang sama juga menunjukkan bahwa hampir separuh orang yang tidur di jalan ditemukan di London dan wilayah South East.
Namun angka-angka itu belum sepenuhnya menggambarkan kenyataan. Tunawisma bukan hanya mereka yang tidur di trotoar. Di balik statistik terdapat keluarga yang berpindah dari hotel ke hotel murah, anak-anak yang tumbuh di hunian sementara, perempuan korban kekerasan rumah tangga, hingga orang dewasa yang berpindah dari satu sofa ke sofa lain karena tidak lagi memiliki rumah.
Bayangkan seorang tokoh komposit bernama James.
Ia kehilangan pekerjaan ketika perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Tabungannya habis dalam beberapa bulan. Bantuan sosial datang terlalu lambat untuk menutup biaya sewa.
Ia menjual mobilnya agar dapat bertahan sedikit lebih lama. Ketika uang itu habis, ia kehilangan kamar yang disewanya.
Pada siang hari James tetap mengenakan jas. Ia duduk di perpustakaan umum, mengirim lamaran pekerjaan, dan berusaha mempertahankan martabatnya.
Pada malam hari ia kembali ke jalan. Jas yang sama ia lipat menjadi bantal agar tidak terlalu kotor.
Begitulah seseorang dapat berpindah dari kelas pekerja menjadi penghuni jalan hanya dalam hitungan bulan.
Kejatuhan itu sering bukan akibat satu kesalahan besar, melainkan pertemuan antara kehilangan pekerjaan, mahalnya biaya sewa, utang, gangguan kesehatan mental, dan perlindungan sosial yang datang terlambat.
Tunawisma bukan hanya kegagalan individu mengatur hidupnya. Ia juga memperlihatkan rapuhnya pasar perumahan, perlindungan sosial, pelayanan kesehatan, dan kemampuan negara menangkap seseorang sebelum ia jatuh terlalu dalam.
Ketika semakin banyak warga kehilangan tempat tinggal, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya atap sebuah rumah.
Yang ikut terancam adalah keyakinan masyarakat bahwa negara masih sanggup melindungi mereka pada saat paling rentan.
Masalah ketiga adalah migrasi.
Setiap beberapa minggu, berita mengenai perahu-perahu kecil yang menyeberangi Selat Inggris kembali memenuhi halaman depan media. Gambarnya hampir selalu sama, tetapi emosi yang ditimbulkannya semakin besar.
Dalam setahun hingga Maret 2026, sekitar 39.000 orang tiba di Inggris melalui perahu kecil. Sebagian besar berasal dari Afghanistan, Eritrea, Sudan, Iran, Somalia, dan negara-negara lain yang dilanda perang, represi, atau keruntuhan ekonomi.
Di satu sisi terdapat manusia yang melarikan diri dari ketakutan. Mereka membawa anak-anak, kenangan, trauma, dan harapan akan kehidupan yang lebih aman.
Di sisi lain terdapat warga Inggris yang bertanya apakah sekolah, rumah sakit, perumahan, dan lapangan kerja masih mampu menanggung tambahan beban.
Perdebatan itu menjadi sangat emosional karena mempertemukan dua nilai yang sama-sama sah.
Yang pertama adalah kewajiban moral untuk melindungi manusia yang melarikan diri dari bahaya.
Yang kedua adalah kewajiban negara menjaga perbatasan serta memastikan pelayanan publik tetap dapat berfungsi bagi seluruh warga.
Persoalan utamanya bukan semata-mata jumlah pendatang. Yang lebih meresahkan adalah proses migrasi yang dianggap tidak tertata, pemeriksaan suaka yang berjalan terlalu lambat, serta ketidakmampuan pemerintah menjelaskan kepada publik bagaimana keadaan akan dikendalikan.
Ketika negara gagal mempertemukan kemanusiaan dengan ketertiban, ruang kosong itu segera diisi oleh ketakutan.
Dan ketika ketakutan mengambil alih, migrasi berubah dari persoalan administrasi menjadi persoalan identitas nasional.
Dalam suasana seperti itulah Reform UK memperoleh momentum.
Partai yang dipimpin Nigel Farage itu menjadikan pengendalian imigrasi, pengurangan pajak, serta penolakan terhadap berbagai kebijakan elite Westminster sebagai pesan utamanya.
Pesan tersebut sederhana, mudah dipahami, dan langsung menyentuh kecemasan sehari-hari masyarakat.
Sejak 2025 Reform berulang kali memimpin berbagai jajak pendapat nasional dan berhasil menarik sebagian pemilih kelas pekerja yang sebelumnya mendukung Partai Buruh.
Gelombang itu semakin terasa pada berbagai pemilihan lokal sepanjang 2026. Partai Buruh mulai kehilangan keyakinan bahwa Keir Starmer masih mampu membalikkan keadaan.
Di tengah situasi itulah nama Andy Burnham semakin sering disebut sebagai sosok yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan masyarakat biasa.
Puncaknya, Juni 2026, Burnham memenangkan by-election Makerfield dengan mengalahkan kandidat Reform UK, partai yang menurut data Home Office memanfaatkan lonjakan 39.000 kedatangan perahu kecil sebagai amunisi elektoralnya.
Pergantian kepemimpinan akhirnya bukan sekadar pilihan politik. Ia menjadi upaya Partai Buruh memulihkan kembali kepercayaan publik yang mulai menghilang.
Mengapa keresahan masyarakat berkembang sedemikian besar?
Penyebab pertama adalah pertumbuhan ekonomi yang terlalu lemah untuk mengejar akumulasi kenaikan biaya hidup.
Inggris menghadapi rangkaian guncangan yang datang hampir tanpa jeda. Brexit meningkatkan hambatan perdagangan. Pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas ekonomi. Perang Ukraina mendorong harga energi. Kenaikan suku bunga memperbesar cicilan rumah dan biaya pinjaman.
Sebagian indikator ekonomi memang mulai membaik pada akhir 2025. Namun bagi banyak keluarga, perbaikan itu belum mampu menghapus tekanan yang telah menumpuk selama beberapa tahun.
Dalam survei Office for National Statistics pada Mei 2026, sekitar tujuh dari sepuluh warga dewasa menyatakan pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Artinya, hampir sepertiga lainnya belum memiliki keyakinan yang sama.
Yang berubah bukan hanya isi dompet. Yang berubah adalah kontrak psikologis antara negara dan warganya.
Selama puluhan tahun masyarakat percaya bahwa bekerja keras, menaati aturan, dan membayar pajak akan membawa kehidupan yang lebih baik.
Ketika keyakinan itu mulai retak, yang melemah bukan hanya ekonomi, tetapi juga legitimasi politik.
Penyebab kedua adalah krisis perumahan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Pembangunan rumah baru tidak mampu mengejar pertumbuhan permintaan, terutama di kota-kota besar. Rumah sosial terbatas. Harga tanah terus meningkat. Proses perizinan lambat. Kepemilikan properti semakin terkonsentrasi pada mereka yang telah lebih dahulu memiliki aset.
Akibatnya, banyak keluarga muda tetap menyewa rumah meskipun telah bekerja penuh waktu.
Bagi mereka, rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal. Rumah berubah menjadi simbol masa depan yang semakin sulit dijangkau.
Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk membayar sewa, satu musibah saja dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis.
Kehilangan pekerjaan. Perceraian.
Sakit berkepanjangan. Atau keterlambatan bantuan sosial. Semuanya dapat menjadi pintu menuju tunawisma.
Perumahan bukan hanya persoalan bangunan. Ia merupakan fondasi stabilitas keluarga, kesehatan mental, pendidikan anak, dan rasa memiliki terhadap masyarakat.
Penyebab ketiga adalah kegagalan sistem politik membangun konsensus mengenai migrasi.
Pemerintah menghadapi tuntutan yang tampak saling bertentangan.
Dunia usaha membutuhkan tenaga kerja. Masyarakat menghendaki pengendalian perbatasan.
Kelompok kemanusiaan meminta perlindungan bagi pengungsi.
Sementara hukum nasional dan internasional mewajibkan negara memberikan proses yang adil bagi setiap pencari suaka.
Dalam situasi seperti itu, setiap keputusan mengandung risiko politik. Jika negara dianggap terlalu lunak, pemerintah dituduh kehilangan kendali.
Jika terlalu keras, pemerintah dituduh kehilangan kemanusiaan.
Padahal persoalan ini tidak dapat diselesaikan dengan slogan.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang cepat, tegas, transparan, dan tetap menghormati martabat manusia.
Ketika negara gagal menghadirkan keseimbangan itu, setiap kapal yang tiba bukan lagi sekadar membawa manusia.
Ia membawa pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Masih mampukah negara mengendalikan perubahan yang sedang terjadi?
Saya tiba di London tepat ketika Andy Burnham memasuki Downing Street sebagai Perdana Menteri baru.
Kebetulan itu terasa simbolis. Di balik ritme bus tingkat, kereta bawah tanah, restoran, museum, dan taman-taman kota yang tetap ramai, Inggris sedang memasuki babak politik yang baru.
Karena dua anak saya menempuh pendidikan di London, saya cukup sering berkunjung ke kota ini.
Saya mengenal London bukan hanya melalui gedung parlemen, universitas, atau Buckingham Palace.
Saya mengenalnya melalui kasir supermarket, sopir taksi, pelayan restoran, penumpang kereta bawah tanah, dan orang-orang yang duduk sendirian di bangku taman.
Dalam perjalanan dari pusat kota menuju tempat anak saya tinggal, saya berbincang dengan seorang sopir taksi.
Ia bercerita tentang tagihan listrik yang terus meningkat dan harga sewa apartemen anak perempuannya yang semakin sulit dijangkau.
Namun beberapa menit kemudian ia juga berkata bahwa rumah sakit tempat istrinya bekerja tidak mungkin berjalan tanpa banyak tenaga kesehatan yang berasal dari luar negeri.
Saya bertanya bagaimana pandangannya mengenai imigrasi.
Ia tersenyum kecil. “Saya ingin perbatasan yang tertib,” katanya, “tetapi saya juga tidak ingin negeri ini kehilangan rasa kemanusiaannya.”
Jawaban itu sederhana. Namun justru karena sederhana, ia terasa sangat jujur. Percakapan singkat itu mengingatkan saya bahwa masyarakat biasa sering memiliki pandangan yang jauh lebih rumit daripada slogan politik.
Mereka dapat merasa cemas terhadap migrasi, sekaligus menghargai para migran yang merawat orang tua mereka di rumah sakit.
Mereka dapat mengeluhkan pajak yang tinggi, tetapi tetap menginginkan pelayanan publik yang baik.
Mereka dapat kecewa kepada pemerintah, tanpa kehilangan harapan kepada negaranya. Di situlah saya menyadari sesuatu.
Ketika ilmuwan politik berbicara mengenai legitimasi, rakyat sebenarnya sedang berbicara mengenai dapur mereka.
Ketika ekonom memperdebatkan produktivitas, seorang ibu sedang menghitung isi keranjang belanjanya.
Ketika politisi berbicara mengenai strategi nasional, seorang tunawisma hanya berharap malam itu tidak turun hujan.
Demokrasi pada akhirnya tidak diuji di ruang sidang parlemen. Ia diuji dalam kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Dua buku sangat membantu memahami fenomena ini. Buku pertama adalah The Spirit Level: Why More Equal Societies Almost Always Do Better karya Richard Wilkinson dan Kate Pickett, diterbitkan Allen Lane pada 2009.
Wilkinson dan Pickett menunjukkan bahwa, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh besarnya kekayaan nasional, tetapi juga oleh bagaimana kekayaan, kesempatan, dan rasa aman didistribusikan.
Melalui perbandingan berbagai negara maju, mereka menemukan bahwa masyarakat dengan ketimpangan yang lebih rendah cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial yang lebih tinggi, kesehatan yang lebih baik, serta konflik sosial yang lebih rendah.
Pesan utama buku ini sederhana tetapi mendalam. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghadirkan ketenangan hidup.
Sebuah negara dapat semakin kaya, tetapi warganya tetap merasa semakin rapuh apabila biaya rumah, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari bergerak lebih cepat daripada harapan mereka.
Dalam konteks Inggris, buku ini membantu menjelaskan mengapa indikator makroekonomi yang mulai membaik belum tentu mengembalikan rasa percaya masyarakat.
Kemajuan ekonomi baru memiliki arti apabila ia juga menghadirkan rasa aman.
Buku kedua adalah The Road to Somewhere: The Populist Revolt and the Future of Politics karya David Goodhart, diterbitkan Hurst Publishers pada 2017.
Goodhart membedakan masyarakat modern ke dalam dua kecenderungan besar. Kelompok pertama adalah Anywheres: mereka yang berpendidikan tinggi, kosmopolitan, dan relatif mudah berpindah mengikuti peluang.
Kelompok kedua adalah Somewheres: mereka yang lebih kuat terikat pada komunitas lokal, tradisi, dan identitas tempat mereka dibesarkan.
Pembagian ini tentu bukan batas yang mutlak. Namun kerangka tersebut membantu menjelaskan mengapa globalisasi dan migrasi dipandang sebagai peluang oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai kehilangan kendali oleh sebagian lainnya.
Banyak warga sebenarnya bukan menolak pendatang. Mereka hanya merasa perubahan berlangsung terlalu cepat, sementara suara komunitas lokal semakin jarang didengar.
Dalam konteks Inggris, buku Goodhart menjelaskan mengapa bahasa teknokratis pemerintah sering gagal menjawab kegelisahan masyarakat.
Yang dipersoalkan rakyat bukan hanya angka migrasi. Yang mereka pertanyakan adalah apakah negara masih mampu mengelola perubahan tanpa kehilangan identitas dan kohesi sosial.
Namun analisis yang adil juga harus memberi ruang bagi pandangan yang berbeda. Tidak seluruh kesulitan Inggris dapat dibebankan kepada Keir Starmer.
Krisis energi, dampak Brexit, pandemi Covid-19, perang Ukraina, kekurangan rumah, tekanan terhadap National Health Service, dan meningkatnya arus migrasi merupakan persoalan yang telah berkembang selama bertahun-tahun, bahkan melintasi beberapa pemerintahan.
Sebagian indikator ekonomi juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Inflasi telah jauh menurun dibandingkan puncak krisis energi.
Pendapatan riil rumah tangga mulai meningkat pada akhir 2025.
Jumlah migran yang tiba melalui perahu kecil pun masih lebih rendah dibandingkan rekor pada 2022.
Karena itu, pengunduran diri Starmer tidak dapat dipahami sebagai bukti bahwa seluruh kebijakannya gagal.
Politik sering kali menghukum seorang pemimpin sebelum hasil reformasi jangka panjang sempat terlihat.
Namun demokrasi memiliki logikanya sendiri. Seorang Perdana Menteri memang tidak menciptakan semua krisis.
Tetapi ia tetap dimintai pertanggungjawaban atas kecepatan respons, kejelasan arah, kualitas pelaksanaan, dan kemampuannya membangun kembali harapan masyarakat.
Dalam krisis biaya hidup, rakyat ingin melihat perlindungan bagi kelompok paling rentan sekaligus strategi yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi.
Dalam krisis perumahan, mereka mengharapkan pembangunan rumah yang lebih cepat, perlindungan bagi penyewa, serta sistem yang mampu mencegah seseorang jatuh ke jalanan.
Dalam persoalan migrasi, mereka menginginkan sesuatu yang tampaknya sederhana tetapi sesungguhnya sangat sulit diwujudkan: negara yang tetap manusiawi tanpa kehilangan kendali atas perbatasannya.
Pada akhirnya, rakyat tidak menuntut pemerintah mampu menghilangkan seluruh kesulitan. Mereka hanya ingin percaya bahwa kesulitan itu sedang diarahkan menuju penyelesaian.
Di sinilah Starmer kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada suara di parlemen. Ia kehilangan narasi. Ketika hasil belum terasa dan arah tidak lagi dipercaya, kelemahan sosial berubah menjadi kerentanan elektoral.
Kerentanan elektoral berkembang menjadi pemberontakan internal.
Dan pemberontakan internal akhirnya mengakhiri kepemimpinan.
Pergantian dari Keir Starmer kepada Andy Burnham bukan semata pergantian seorang Perdana Menteri.
Ia mencerminkan usaha Partai Buruh memulihkan kembali hubungan antara negara dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Burnham tidak datang membawa mukjizat. Ia datang membawa beban harapan. Harapan agar rumah kembali terjangkau. Harapan agar tagihan hidup tidak lagi mengalahkan kerja keras. Harapan agar jalanan kota tidak menjadi kamar tidur bagi mereka yang kehilangan pekerjaan.
Harapan agar Inggris mampu menjaga perbatasannya tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Apakah harapan itu akan menjadi kenyataan? Sejarah belum memberikan jawabannya. Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal.
Legitimasi politik tidak dibangun terutama melalui pidato, manifesto, atau kemenangan pemilu. Ia dibangun setiap kali seorang ibu mampu membeli susu tanpa harus mengembalikannya ke rak.
Ia dibangun setiap kali seorang pekerja percaya bahwa kehilangan pekerjaan tidak akan membuatnya tidur di jalan.
Ia dibangun setiap kali sebuah negara mampu menolong orang asing tanpa kehilangan kemampuan menjaga rumahnya sendiri.
Harapan memang bukan pengganti kebijakan. Namun harapan adalah alasan mengapa rakyat bersedia memberi waktu kepada kebijakan untuk bekerja.
Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak mulai runtuh ketika ekonominya melambat.
Sebuah bangsa mulai runtuh ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa, kerja keras masih memiliki masa depan.
*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Ketua Umum SATUPENA, Sastrawan, Penggagas Puisi Esai, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).



