telusur.co.id - Di tengah hembusan angin dingin yang menusuk tulang, di bawah guyuran hujan tak kenal ampun, dan di balik selimut kabut pekat yang seolah ingin menelan jejak langkah mereka sekelompok pendaki dari Jawa Timur justru memilih untuk melangkah lebih jauh. Bukan karena nekat. Tapi karena panggilan jiwa. Karena cinta pada alam. Dan karena semangat persaudaraan yang tak bisa dipadamkan oleh cuaca sekalipun.
Mereka adalah Pendaki Jawa Timur (PANJAT), komunitas yang bukan sekadar mendaki, tapi menjelajah dengan hati. Dalam ekspedisi lintas Gunung Gede Pangrango via Cibodas–Putri, Kab. Cianjur, mereka bukan hanya menaklukkan puncak. Mereka menaklukkan rasa lelah, ketakutan, dan batasan fisik sendiri.
Perjalanan dimulai pukul 15.00 WIB, Rabu 13 Mei 2025, dari Base Camp (BC) Sidoarjo. Perjalanan darat selama 14 jam menuju Cibodas bukanlah hal mudah. Tubuh letih, mata mengantuk, tapi semangat tetap menyala seperti api unggun di malam hari.
“Kami tahu ini bakal berat. Tapi kami juga tahu, keindahan itu selalu datang setelah perjuangan,”ucap Sekretaris PANJAT, Arry Kidz sekaligus pemimpin ekspedisi lewat keterangan tertulisnya. Minggu, (17/5/2026).
Pukul 10.00 WIB, Kamia (14/5/2026), mereka masuk ke jalur Cibodas. Hutan tropis lembab menyambut dengan jalur bebatuan yang seperti tangan raksasa mencoba menahan langkah. Udara dingin mulai merayap masuk lewat celah jaket. Jalur licin. Napas mulai berat. Tapi satu demi satu pos dilewati. Hingga akhirnya, pukul 18.00 WIB, mereka tiba di Kandang Badak, tempat istirahat pertama setelah melalui 12 pos, sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai.
Pagi harinya, Jumat (15/5/2026), pukul 05.00 WIB, mereka bangkit lagi. Sarapan roti bakar hangat menjadi bahan bakar sebelum menghadapi tanjakan menuju Puncak Pangrango yang memiliki ketinggian 3019 MDPL dan Sabana Mandalawangi.
Dan ketika kabut tipis mulai tersingkap, dunia berubah.
Rumput hijau membentang luas, bergoyang ditiup angin gunung. Bunga Edelweis bermekaran di sela-sela batu. Anggrek liar menempel di batang pohon tua. Sumber air jernih mengalir deras. Semua itu menciptakan suasana magis, seperti lukisan hidup yang dibuat oleh Tuhan sendiri.
“Saya pernah mendaki di Tiongkok, tapi keindahan Pangrango ini beda. Ini punya ‘jiwa’. Tanjakannya bikin lutut gemetar, tapi hatin saya bahagia banget,” tutur Yani, peserta perempuan asal Mojokerto, sambil tertawa lepas meski kakinya masih terasa ngilu.
Namun, surga itu tidak lama dinikmati. Pukul 10.00 WIB, mereka turun kembali ke Kandang Badak. Makan siang cepat, berkemas, lalu melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede, (puncak tertinggi di kompleks ini), dengan ketinggian 2.958 mdpl.
Jalur menuju Puncak Gede dikenal sebagai “Tanjakan Setan”, curam, licin, dan penuh tebing curam. Dan kali ini, alam tidak begitu bersahabat
Hujan turun tanpa rintik-rintik. Kabut tipis menutup pandangan. Langkah kaki semakin berat. Beberapa anggota tim harus berhenti, duduk di tanah basah, mengatur napas sambil menggigil kedinginan. Namun tak ada yang menyerah. Sebab ada teman yang selalu, memberi semangat.
“Di sini, kita bukan cuma mendaki bareng. Kita hidup bareng. Kalau ada yang jatuh, kita angkat. Kalau ada yang lemah, kita dukung. Itulah arti solidaritas,” ungkap Dimas, peserta termuda yang usianya baru 19 tahun.
Pukul 17.15 WIB, setelah hampir 6 jam bertarung dengan alam, mereka akhirnya sampai di Puncak Gunung Gede. Tidak ada matahari terbenam. Tidak ada langit biru. Hanya kabut pekat dan gerimis halus. Tapi bagi mereka, itu sudah cukup. Karena mereka berhasil bersama-sama.
Setelah berfoto di bibir kawah dan tugu puncak gunung Gede yang diselimuti kabut, mereka lanjut menuju Alun-Alun Surya Kencana, sabana legendaris yang terkenal dengan hamparan Edelweisnya.
“Ini momen paling berharga. Kita lelah, basah, kedinginan, tapi rasanya seperti pulang ke rumah. Karena di sini, kita semua keluarga,” tegas Dimas.
Keesokan paginya, Sabtu (16/5/2026), puku 10.00 WIB, mereka mulai turun melalui jalur Putri. Tubuh lelah. Pakaian basah. Lutut sakit. Tapi semangat tetap tinggi. Setiap langkah adalah kemenangan. Setiap tarikan napas adalah syukur.
Pukul 12.25 WIB, mereka tiba di Pos Perizinan Gunung Gede via Putri. Tiga puluh lima menit kemudian, mereka sudah kembali ke kawasan Cibodas. Bersih-bersih. Istirahat sejenak. Lalu melanjutkan perjalanan ke BC Mustika di Bekasi untuk bersilaturahmi dengan rekan-rekan pendaki lainnya.
Di sana, mereka diterima dengan hangat dan ucapan salut.
“Tim PANJAT ini luar biasa. Biasanya orang lintas dari Putri ke Cibodas. Tapi mereka lakukan sebaliknya, dari Cibodas ke Putri, dalam kondisi hujan dan kabut. Salut buat Mas Arry Kidz dan seluruh tim. Jatim Hebat!,” papar Ajie Tea dari BC Mustika.
Ekspedisi ini bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai puncak. Bukan tentang siapa yang paling kuat membawa beban. Ini tentang bagaimana sekelompok manusia dari berbagai latar belakang, usia, dan pengalaman, mampu bersatu padu menghadapi tantangan alam, dan keluar sebagai pemenang.
“Kami tidak menaklukkan gunung. Gununglah yang menguji kami. Dan kami lulus ujian itu dengan hati yang bersih, tubuh yang lelah, tapi jiwa yang utuh,” lugas Arry Kidz.
Bagi anggota Pendaki Jawa Timur (PANJAT), kata Anton, setiap pendakian adalah pelajaran. Setiap tanjakan adalah doa. Setiap puncak adalah hadiah. Dan setiap langkah bersama adalah kenangan abadi.
Mereka pulang ke Jawa Timur pada 17 Mei 2025 pukul 05.00 WIB dengan lelah, tapi bangga. Karena mereka telah membuktikan bahwa, semangat persaudaraan bisa mengalahkan badai apa pun.
"Dan bagi Anda yang membaca ini, mungkin suatu hari nanti, Anda akan berdiri di atas puncak yang sama. Dan saat itu, ingatlah: gunung tidak meminta Anda kuat. Ia hanya meminta Anda berani melangkah,” tutup Anton.
Foto-foto eksklusif dan video dokumentasi ekspedisi dapat diakses di Instagram & TikTok @panjat.official. (ari)



