telusur.co.id - Guatemala mengumumkan bahwa mereka akan secara bertahap mengakhiri kemitraan hampir 30 tahun dengan brigade medis Kuba, menjadi negara terbaru yang menyerah di bawah tekanan berkelanjutan Amerika Serikat. Kementerian Kesehatan Guatemala menyatakan 412 tenaga kesehatan Kuba, termasuk 333 dokter, akan ditarik sepanjang tahun 2026 seiring berakhirnya kontrak mereka.
Keputusan ini dikemas sebagai “analisis teknis” untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, tetapi para pengamat menilai langkah tersebut merupakan respons terhadap kampanye tekanan diplomatik yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Program medis Kuba telah lama menjadi target kritik Washington, yang menudingnya eksploitatif dan menekan negara-negara sekutu untuk mengakhiri kerjasama.
Guatemala bergabung dengan deretan negara lain yang sudah mengurangi atau menghentikan program medis Kuba, termasuk Bahama, Paraguay, Guyana, dan Saint Lucia, sebagian akibat ancaman pembatasan visa bagi pejabat pemerintah yang terkait program ini. Tekanan meningkat sejak Januari 2026, ketika Presiden Donald Trump menyatakan Kuba sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” terhadap keamanan nasional melalui Perintah Eksekutif 14380, memungkinkan pengenaan sanksi sekunder terhadap negara yang menjalin hubungan perdagangan atau medis dengan Kuba.
Program internasionalisme medis Kuba, yang telah ada sejak 1963, dikenal sebagai yang terbesar dalam sejarah. Lebih dari 600.000 tenaga kesehatan Kuba telah ditempatkan di lebih dari 160 negara, memberikan layanan medis yang signifikan ke negara berkembang, melebihi kontribusi gabungan negara G8. Brigade Henry Reeve, salah satu unit medis khusus Kuba, telah menyelamatkan lebih dari 93.000 jiwa dan melakukan 31.000 operasi di seluruh dunia, termasuk tanggap krisis Ebola 2014 dan pandemi COVID-19.
Selain bantuan darurat, Kuba juga mengoperasikan Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM), yang mendidik mahasiswa dari komunitas termiskin di 110 negara secara gratis, dengan tujuan mereka kembali mengabdi di daerah yang kekurangan layanan kesehatan.
Langkah Guatemala menimbulkan pertanyaan besar mengenai keberlanjutan layanan kesehatan di negara itu. Dengan penarikan 412 tenaga medis Kuba, termasuk ratusan dokter, Guatemala menghadapi tantangan serius untuk mengisi kekosongan tersebut dan menjaga akses layanan medis di berbagai wilayah, khususnya di komunitas yang sangat bergantung pada bantuan profesional Kuba selama tiga dekade terakhir.
Keputusan ini menjadi cerminan bagaimana tekanan geopolitik dapat memengaruhi kebijakan domestik terkait kesehatan, sekaligus menyoroti ketergantungan beberapa negara pada program internasionalisme medis Kuba sebagai tulang punggung layanan kesehatan publik mereka. [ham]



