Telusur.co.id -Pemerintah Indonesia, ‘mengancam ‘ akan memboikot produk-produk dari Uni Eropa (UE), apabila negara itu memboikot sawit dari Indonesia pada 2030.
Menurut Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, ancaman memboikot barang-barang dari Uni Eropa, tidak perlu di lakukan Indonesia.
Sebab, kata dia, Indonesia belum mempunyai senjata atau kekuatan untuk melawan Uni Eropa dan hanya mendapatkan kerugian untuk Indonesia.
“Ooh merugikanlah. Kita ini kan sangat memerlukan pasar terutama UE dan Amerika. Kalau enggak, nanti kita bleading. Itu cina bleading gara-gara berantem dengan Donal Trump. Kita kekuatanya apa, mau beantem. Cina ajah yang ngontrol prodak, dia bleading juga. Kita, apa lagi. Udahlah jangan berantem kalau gak kuat,” ujar Fahri di Gedung Parlemen, Selasa (25/3/19).
Untuk itu, ia mengusulkan agar pemerintah Indonesia, untuk segera melakukan duduk bersama melakukan lobi-lobi kepada pihak UE, dari pada menyatakan perang ‘boikot produk’.
Sebab, Politikus PKS ini juga menilai, tersendatnya penjualan sawit Indonesia di wilayah Eropa ada campur tangan dari perantara bukan negara produsen.
“Kalau menurut saya, harus duduk bersama. Kita ini gak pernah punya kesempatan punya lobi sejauh itu.
Pak Jokowi todak pernah pidato di PBB. tidak pernah ketemu dengan masyarakat ekonomi UE. Saya percaya, kalau komunikasinya intensif. Deal bisnisnya itu bisa direck, perantara bisa dikurangi,” ucapnya.
Atau, lanjutnya, yang lebih baik lagi. Indonesia- Malaysia segera membahas hal tersebut secara bersamaan guna membuat kerjasama dibidang Sawit.
Dengan adanya, kekuatan besar antara Indonesia dan Malaysia dalam bidang perdagangan Sawit. Uni Eropa tidak akan berkutik soal Ekspor sawit ke negaranya.
“Indoneisa dan malaysia bisa bersatu. Bisa Mengontrol lebih 70 persen menguasai sawit di dunia. Kita enggak perlu mengancam. Atur ajah, down streem kita. Kita ngomong sama Malaysia. Kita akan investasi besar-besaran di Down streem,”
“Mereka mau beli sawit dimana? Orang tergantung sama kita kok. Jadi jangan konflik, karena kita gak ngomong. Masalahnya kan kita gak ngomong. Peran pemerintah di Internasiol ini lemah,” paparnya lebih lanjut.
Uni Eropa akan menghentikan sama sekali pemakaian minyak sawit sebagai bahan bakar hayati pada 2030, sebuah langkah yang diprotes Indonesia.
Indonesia menilai langkah ini sebagai bentuk diskriminasi, karena bahan untuk biodiesel yang dimiliki UE dianggap tidak kompetitif. Ancaman boikot produk Eropa pun siap dilayangkan Indonesia.
Tahun lalu, ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa hampir lima juta ton, dan lebih dari setengahnya digunakan untuk biofuel. Jumlah itu mencapai empat belas persen dari total ekspor sawit.
Namun kini, Uni Eropa bakal menyetop penggunaan sawit untuk biodiesel sebagaimana tercantum dokumen Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Directive II (RED II).
Lalu, Indonesia saat ini menyusun rancangan untuk membawa sikap Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia WTO.[asp]



