Ini Tanggapan Lion Air Group soal Negosiasi Cicilan Utang Sewa Pesawat dengan 50 Lessor - Telusur

Ini Tanggapan Lion Air Group soal Negosiasi Cicilan Utang Sewa Pesawat dengan 50 Lessor


telusur.co.id - Lion Air Group diketahui telah mencapai kesepakatan negosiasi dengan sejumlah lessor untuk merestrukturisasi perjanjian sewa mereka setelah berbulan-bulan, kendati sebagian besar masih dalam pembahasan.

Saat ini, sebanyak 112 dari 156 pesawat Lion Air (JT, Jakarta Soekarno-Hatta) yang beroperasi adalah sewa, dari 35 lessor. Sedangkan anak perusahaan Batik Air, Malindo Air Malaysia, Thai Lion Air, dan Wings Air (Indonesia) menyewa pesawat dari beberapa di antaranya ditambah dengan tambahan 15 lessor, membuat daftar total 50 lessor yang harus dinegosiasikan Lion Air grup tersebut.

Dilansir dari ch-aviation, Sabtu (7/8/21), lessor Goshawk dan delapan afiliasinya telah menggugat Lion Air Group di pengadilan London pada Juli dengan tuduhan tagihan leasing yang belum dibayar untuk tujuh pesawat Boeing.

Namun, salah satu lessor yang menggugat itu mengungkapkan kepada FlightGlobal bahwa sudah ada kesepakatan dengan Lion Air Group.

Terkait itu, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro menjelaskangatakan, selama pengoperasian pesawat udara, pihaknya sangat menghormati perjanjian yang telah disepakati dalam kontrak. 

"Dengan menjalankan seluruh kewajiban pembayaran dan pemeliharaan pesawat udara (maintenance)," kata Danang dalam keterangan resminya, Sabtu (7/8/21).

Dalam kondisi dan situasi masa waspada pandemi Covid-19, lanjut Danang, Lion Air Group melakukan adaptasi (penyesuaian) yang berdampak ke bisnis, salah satunya restrukturisasi dengan pihak atau mitra Lion Air Group. 

"Keputusan ini, digunakan untuk melakukan perbaikan yang tujuan akhirnya adalah memperbaiki serta memaksimalkan kinerja yang dijalankan perusahaan. Lion Air Group sangat perlu melakukan evaluasi kinerja dan melakukan perbaikan agar tetap tumbuh dan dapat bersaing," tuturnya 

Dikatakan Danang, dari 299 armada (pesawat udara) yang dioperasikan baik skema finance lease (sewa-beli) maupun operating lease (sewa pesawat udara), terdapat 6 (enam armada) yang dikirim ke Alice Spring, Australia, lokasi yang disepakati bersama lessor. 

Menurut Danang, keputusan itu diambil (dibuat) dengan alasan, Lion Air Group sudah melakukan negosiasi dengan semua mitra, 90 persen ada kesepakatan serta solusi terbaik ditengah masa waspada pandemi Covid-19.

"Lion Air Group menilai (menurut hemat kami) tepat dan menjadi salah satu solusi terbaik, mengingat kondisi pasar (market) yang ada saat ini mengalami penurunan sehingga perlu mengurangi jumlah pesawat udara. Memberikan dampak lebih efisien serta mampu menyesuaikan kapasitas angkut penumpang dan kargo," ungkap Danang. 

Bagi Danang, ini juga mendukung operasional dan kinerja Lion Air Group, karena setelah proses direstrukturisasi, biaya mengalami penurunan.

Danang memastikan, Lion Air Group senantiasa menghormati berbagai sikap yang diambil atas keputusan berdasarkan prosedur dan ketentuan berlaku sejalan mengutamakan asas profesionalitas bisnis (corporate to corporate) yang telah terjalin selama ini.

Lion Air Group juga memastikan operasional dan layanan penerbangan tetap dijalankan sesuai permintaan pasar dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan dan sesuai pedoman protokol keseahtan.

Adapun pesawat udara yang ada dan belum dioperasikan, tetap dilakukan proses perawatan pesawat udara dan pengerjaan lain berdasarkan standar operasional prosedur. Hal ini memastikan dan dipersiapkan bahwa seluruh armada dinyatakan layak dan aman diterbangkan (airworthiness for flight).

"Lion Air Group optimis, pasar penerbangan di Indonesia (pasar domestik) masih ada dan akan terus tumbuh mendatang," tukasnya. [Fhr] 

 


Tinggalkan Komentar