telusur.co.id - Penasihat Pemimpin Revolusi Islam Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Teheran tetap berkomitmen menempuh jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Namun, Iran memperingatkan tidak akan tinggal diam apabila Washington memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei dalam wawancara dengan jaringan televisi Russia Today yang dikutip kantor berita Press TV, Selasa (9/6/2026).
Menurut mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu, Iran saat ini masih mengedepankan negosiasi sebagai jalan untuk mencapai tujuannya. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa segala bentuk blokade laut yang dianggap melanggar hak-hak Iran akan dihadapi dengan tindakan tegas.
"Untuk saat ini, kami mengejar tujuan melalui negosiasi. Namun, blokade laut merupakan pelanggaran terhadap hak-hak kami dan kami tidak akan menerimanya. Kami pasti akan mematahkan setiap blokade laut yang diberlakukan," ujar Rezaei.
Ia menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan pernah membiarkan hak-hak sahnya dilanggar oleh pihak mana pun.
"Kami serius dalam bernegosiasi, tetapi kami lebih serius lagi dalam membela diri," tegasnya.
Rezaei mengatakan Iran berupaya meraih kemenangan tidak hanya melalui jalur diplomatik, tetapi juga dalam mempertahankan kepentingan nasional dan kemampuan pertahanannya.
"Kami ingin menang dalam negosiasi, dalam perang, dan dalam membela diri," katanya.
Selain itu, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran tersebut menilai konfrontasi yang terjadi belakangan ini telah membuka mata dunia mengenai sikap Amerika Serikat yang dianggap tidak dapat dipercaya.
"Dalam proses negosiasi ini, kami telah menunjukkan kepada dunia seperti apa Amerika sebenarnya dan prinsip-prinsip yang dijalankannya," ujar Rezaei.
Ia menuding Washington berulang kali melanggar perjanjian internasional, mengabaikan hukum internasional, serta tidak menghormati hak asasi manusia.
"Mengungkap wajah sebenarnya Amerika, pelanggaran berulang terhadap perjanjian, pelanggaran hukum internasional, dan pengabaian terhadap hak asasi manusia, itu sendiri merupakan kemenangan bagi kami," pungkasnya.



