telusur.co.id - Indonesia menutup partisipasinya sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026 dengan sejumlah capaian strategis yang memperkuat posisi industri nasional di kawasan Eurasia. Keikutsertaan dalam pameran industri internasional tersebut berhasil membuka peluang investasi baru, memperluas akses pasar, serta memperkuat kerja sama teknologi dan rantai pasok industri.
Selama empat hari penyelenggaraan INNOPROM 2026, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI memanfaatkan berbagai agenda seperti bilateral meeting, business forum, business talk, dan business matching untuk memperluas kolaborasi industri dengan negara-negara mitra.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kehadiran Indonesia sebagai negara mitra utama dalam ajang tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi industri nasional kepada pasar Eurasia.
“Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 telah memperkuat posisi industri nasional di pasar Eurasia. Hal ini terlihat dari tingginya antusias pelaku industri dari kawasan tersebut yang menginginkan kerja sama dengan industri nasional dan bahkan telah melakukan penandatanganan MoU sepanjang kehadiran kita di Rusia,” ujar Agus di Rusia, Kamis (9/7).
Salah satu capaian utama Indonesia dalam ajang tersebut adalah terlaksananya delapan pertemuan bilateral dengan pemerintah Armenia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Azerbaijan, Tajikistan, Wilayah Chelyabinsk, Wilayah Kirov, serta Wilayah Sverdlovsk.
Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen kerja sama di berbagai bidang, mulai dari penguatan industri, perdagangan, investasi, hilirisasi, pengembangan kawasan industri, penguatan rantai pasok, alih teknologi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia industri.
Dari rangkaian kerja sama tersebut, Indonesia berhasil mencatatkan 13 Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai pihak, termasuk kerja sama antara Kementerian Perindustrian RI dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia.
Selain kerja sama antarpemerintah, sejumlah perusahaan dan asosiasi industri Indonesia juga menjalin kemitraan bisnis dengan mitra Rusia. Beberapa di antaranya melibatkan Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, serta Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI).
Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor strategis, seperti industri manufaktur, rekayasa mesin, alat berat, otomotif, metalurgi, industri kimia, industri halal, pengolahan mineral, pengembangan kawasan industri, hingga penguatan investasi dan perdagangan.
Selain penandatanganan MoU, Kemenperin juga menggelar delapan agenda business talk dan business forum yang dihadiri pelaku industri, calon investor, serta pemangku kepentingan industri dari kawasan Eurasia.
Berbagai forum tersebut membahas isu strategis seperti manufaktur maju, semikonduktor, telematika, industri maritim, hilirisasi, industri sawit berkelanjutan, serta penguatan rantai nilai industri antara kawasan Eurasia dan ASEAN.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Tri Supondy menyebut capaian Indonesia di INNOPROM 2026 menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap kemampuan industri nasional.
“Capaian yang diraih Indonesia selama INNOPROM 2026 menunjukkan bahwa industri nasional semakin dipercaya. Berbagai kerja sama yang terbangun melalui ajang ini diharapkan membuka lebih banyak peluang investasi, perdagangan, dan kolaborasi industri yang memberikan nilai tambah bagi penguatan daya saing manufaktur Indonesia,” ujar Tri.
Apresiasi juga disampaikan Direktur Program Bisnis Formika Event Anton Atrashkin. Ia menilai kehadiran Indonesia di Rusia melalui INNOPROM 2026 menjadi salah satu partisipasi terbesar pelaku usaha Indonesia di negara tersebut.
“Ini merupakan kali pertama pelaku usaha Indonesia hadir di Rusia dalam skala sebesar ini. Kami melihat begitu banyak talenta dan energi yang dicurahkan untuk menghadirkan paviliun serta rangkaian kegiatan yang sangat mengesankan,” ungkap Anton.
Keberhasilan Indonesia sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026 menjadi bukti bahwa diplomasi industri mampu menghasilkan kerja sama nyata, bukan hanya memperluas jejaring internasional.



