telusur.co.id - Sejumlah elemen masyarakat sipil mendeklarasikan Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina {KKIPP). Wadah ini disebut sebagai wadah perjuangan masyarakat sipil dunia berbasis spirit kemanusiaan untuk membebaskan Palestina dari segala belenggu penjajahan Israel demi terwujudnya perdamaian dunia.
"Demi memahami peran yang begitu signifikan dan kesadaran kolektif dari masyarakat sipil dunia, inilah yang menjadi dasar inisiasi dideklarasikannya Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina {KKIPP)," kata Ketua KKIPP, Aulia Ikhsan, saat membacakan deklarasi di Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta Selatan, Rabu (19/5/21).
"Untuk menghentikan 'pertunjukan kekejaman' yang dipentaskan oleh Israel atas Palestina, Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina (KKIPP) menyampaikan pernyataan sikap bersama," ujar Aulia.
Pertama, menolak Israel sebagai negara yang sah serta menolak solusi Dua Negara (Two-State Solution) yang merugikan Palestina.
Kedua, mengajak seluruh organisasi kemanusiaan dan berbagai elemen civil society dunia untuk bersinergi bergerak bersama dalam penghentian penjajahan Israel atas Palestina dalam agenda advokasi dan aksi-aksi kemanusiaan.
Ketiga, memberikan kebebasan kepada masyarakat Palestina dalam 5 aspek, yakni:
a. Kemerdekaan dari kelaparan dan kelangkaan pangan,
b. Kemerdekaan dari ancaman kematian dan kurangnya fasilitas kesehatan,
c. Kemerdekaan untuk memiliki pekerjaan dan lahan pertanian,
d. Kemerdekaan dari kebodohan dan kurangnya fasilitas pendidikan, dan
e. Kemerdekaan secara teritorial dan tempat tinggal.
"Sebab merdeka bagi bangsa Palestina adalah merdeka dari segala bentuk kelaparan, merdeka dari ketakutan, merdeka dari pemiskinan dan kebodohan, dan merdeka untuk mendapatkan hak yang sama sebagai manusia. Pada akhirnya, merdeka yang nyata adalah berdirinya teritori yang berdaulat di Negara Palestina," paparnya.
Dikatakannya, pernyataan sikap dan seruan ini adalah hal yang mendesak untuk semua masyarakat, komunitas, organisasi massa, organisasi, aktivis pergerakan, tokoh-tokoh perdamaian, dan pemerintahan dunia.
"Mari bersama kita bersatu bebaskan Palestina untuk mewujudkan perdamaian dunia," tandasnya.
Sampai saat ini, kata dia, sudah ada 152 organisasi yang bergabung dalam KKIPP baik dari nasional maupun internasional yang terdiri dari enam negara seperti Turki, Malaysia, Singapura, Thailand, Belgia dan Inggris. Ditambah beberapa persatuan pelajar diaspora di Hongkong dan di Amerika Serikat.
"Insya Allah akan terus bertambah. Karena ini terus berproses. Insya Allah kami akan melakukan deklarasi-deklarasi di berbagai daerah, kita terus bergerak," terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sekjen KKIPP Ardiansyah menjelaskan langkah-lanhkah kongkrit yang akan dilakukan pihaknya.
"Pertama kita akan lakukan advokasi-advokasi ke lini-lini terkait di dalam dan di luar negeri. Yang kedua kita akan konsolidasi aksi-aksi implementasi kita di Palestina," ujarnya.
Jadi, kata dia, berbagai elemen-elemen organisasi ini semuanya nanti akan mengerucut kepada agenda-agenda yang akan dilakukan untuk pembebasan Palestina.
"Jadi kita akan bikin bertahap. Pertama yang paling urgen adalah misalkan tadi sudah disampaikan, memerdekakan mereka dari kelaparan, apa agenda kita dari sisi pangan. Ada 2 juta orang yg sekarang tersandra pangannya di Gaza ini, apa yg akan lita lakukan," terangnya.
Lalu di dalam negeri, tambah dia, pihaknya akan melakukan proses-proses advokasi dengan mendatangi kedutaan-kedutaan luar negeri, dan juga ke pemerintahan-pemerintahan terkait.
"Kita akan sampaikan, pertama terkait entitas ini, yang kedua semakin ramainya proses-proses ini kita akan pakai dua jalur yaknu jalur diplomasi dan jalur advokasi," pungkasnya. [Tp]
Jadi Wadah Perjuangan Masyarakat Sipil Dunia Bebaskan Palestina, KKIPP Dideklarasikan
Deklarasi Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina {KKIPP) di Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta Selatan, Rabu (19/5/21).



