telusur.co.id - Hubungan Kanada dan China memasuki babak baru setelah kunjungan Perdana Menteri Kanada Mark Carney ke Beijing menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Lawatan ini menjadi kunjungan perdana seorang pemimpin Kanada ke China dalam delapan tahun terakhir, menandai upaya Ottawa untuk memperluas jejaring dagang di luar Amerika Serikat.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang mencakup kerja sama di sektor minyak, gas, dan energi bersih. Meski tidak mengikat China untuk membeli tambahan energi dari Kanada, dokumen tersebut membuka ruang diskusi lanjutan mengenai minyak, gas alam cair, dan produk petroleum.
Menteri Sumber Daya Alam Kanada, Tim Hodgson, yang turut mendampingi Carney, menyebut bahwa pihak China “sangat jelas menyatakan keinginan untuk memperoleh lebih banyak produk Kanada.” Selain energi, kesepakatan lain juga mencakup ekspor makanan hewan peliharaan asal Kanada serta perluasan kerja sama di sektor pariwisata.
Carney menegaskan bahwa kedua negara tengah berupaya “meletakkan dasar bagi kemitraan strategis baru”, seraya menambahkan bahwa Kanada dan China harus siap menghadapi “tatanan dunia yang baru.”
Namun, hubungan dagang kedua negara masih diwarnai sejumlah isu. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, mengangkat persoalan tarif yang diberlakukan China terhadap daging babi, kanola, dan makanan laut asal Kanada. Tarif tersebut muncul setelah Ottawa mengenakan bea masuk terhadap kendaraan listrik, baja, dan aluminium asal China tahun lalu. Meski demikian, Anand menyebut pembicaraan dengan pejabat Beijing berlangsung “produktif.”
Carney sebelumnya menargetkan untuk menggandakan ekspor non-AS dalam 10 tahun ke depan, sebuah ambisi yang menegaskan strategi diversifikasi pasar Kanada. Dengan langkah ini, Ottawa berharap dapat memperkuat posisinya di panggung global sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika.




