telusur.co.id - Pelantikan Joko Widodo - KH. Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih tinggal menghitung hari. Pemerintah diimbau agar waspada terhadap kemungkinan adanya serangan terorisme.

"Ancaman itu mungkin terjadi, jangan disepelekan dan harus segera diantisipasi," ujar pakar terorisme UNPAD Dr Muradi dalam diskusi di hotel Ibis Jakarta (4/10/19).

Menurut Muradi, teroris mungkin menunggangi aksi-aksi demonstrasi yang marak.

"Mereka ini bukan lonewolf (bekerja sendiri), pasti sudah ada jaringan lamanya, bisa JAD (Jamaah Ansharud Daulah), bisa kelompok lain," katanya.

Menurut Muradi, antisipasi terhadap kemungkinan serangan terorisme harus dilakukan oleh semua pihak. Jangan hanya mengandalkan aparat kepolisian, warga juga harus waspada.

Mantan napi terorisme, Ustad Abu Fida, membenarkan kekhawatiran Muradi. Abu Fida menjelaskan, kelompok-kelompok terorisme selalu mencari cara baru untuk mewujudkan eksistensi.

"Saya ini mantan, saya yakin kelompok-kelompok ini benar-benar ada, bukan rekayasa intelijen," ungkap Abu Fida.

Menurut Abu Fida, jenis serangan bisa bervariasi. Mulai dari bom, sampai serangan fisik, bisa juga simbolik seperti pengibaran bendera.

Sementara itu, pengamat intelijen Ridlwan Habib mengingatkan agar kewaspadaan ditingkatkan di hari-hari menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden.

"Terutama pada tanggal-tanggal penting, 19 dan 20 Oktober," katanya. [Fhr]