MASIH setengah jam lagi sebelum Jumhur Hidayat menjemput saya di Kemang untuk mencari makan siang. Saya harus tuangkan kebencian saya soal isu ini: Kemiskinan.
Saya bahkan sudah membaca buku yang sangat tebal tentang Critique atas pikiran-pikiran Amartya Sen, selain membaca semua pikiran Amartya Sen untuk memahami pikiran-pikiran dia tentang Kemiskinan. Kemiskinan itu, menurutnya, terkait rational choice. Semakin sedikit pilihan dalam hidup, semakin miskin orang tersebut.
Dalam Development as Freedom dan Capability Approach, Sen menyinggung kemiskinan yang terkait ketidak mampuan bersosialisasi, karena ketiadaan material untuk terlibat di masyarakat. Being vs Doing. Bersama UL Haq, Sen merumuskan Ukuran Poverty, HDI, yang dikaitkan dengan inkom, kesehatan dan pendidikan. Bersama Stiglitz dan Fitoussi, Sen mengembangkan alternatif baru tentang rumusan kemiskinan (welfare), atas bantuan Presiden Prancis Sarkozy, 2009.
Intinya, soal basic need alias orang miskin karena tidak bisa makan, adalah fenomena zaman batu, peradaban tergoblok yang pernah ada. Sekarang soal kemiskinan sudah dikaitkan pada level well being or happiness, bukan soal perut lagi.
Membaca kisah remaja putri kecil ini, seandainya dia pun tidak pake kerudung, seandainya dia pun anti Islam, saya akan menitikkan air mata. Karena, ini sebuah situasi keterlaluan. Dan, soal busung lapar ini masih banyak jika di googling. Diberbagai daerah.
Kedunguan bangsa ini sudah sangat dalam. Kekayaan segelintir orang-orang kaya, yang menikmati hidup di atas penderitaan orang-orang miskin, hanya akan berlangsung lama dan terus menerus jika tema-tema elite hanyalah "persatuan nasi goreng, Pancasila vs ISIS/Khilafah, dan rebutan Menteri/Gubernur /Wali Kota model pencitraan dungu berbiaya tinggi.
Rakyat-rakyat miskin akan terus tidak terurus, karena elite-elite yang ada bukanlah orang yang memahami kemiskinan dan merasakan kemiskinan itu bagian dari political idea yang mau diperjuangkan. Bagaimama bisa ada orang yang menguasai 5 juta hektar tanah di Republik ini, menyisakan sejengkal untuk menciptakan sepiring nasi? Lalu, buzzer-buzzer dibiarkan hidup mencaci maki?
Kemiskinan inilah saatnya membuka mata kita mengubah orientasi perjuangan. Perjuangan kita adalah perjuangan pembebasan. Membebaskan rakyat dari kemiskinan. Merubah struktur sosial, memangkas hak-hak najis orang kaya dan membagi semua kekayaan negara kepada rakyat miskin, bukan pada koruptor.
Penulis: DR Syahganda Nainggolan (Pendiri Sabang Merauke Circle)



