telusur.co.id, Anggota DPR RI, Slamet mengkritik keras pernyataan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengenai rencana impor beras 500.000 ton pada tahun 2023 ini.
Pasalnya, wacana yang disampaikan Menteri Zulhas itu berpotensi membuat gejolak harga beras dalam negeri yang saat ini sedang memasuki masa panen raya.
Kendati Mendag Zulhas mengungkapkan hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga beras dan menjaga stok CBP bulog. Namun, kata politis PKS tersebut pernyataan Mendag Zulhas akan membuat banyak spekulan di lapangan yang akan memanfaatkan momen untuk membeli gabah petani dengan harga murah.
“Saya terus terang tidak habis pikir apa yang disampikan oleh Kemendag tersebut. Saat ini petani kita sedang panen raya dan dengan adanya isu impor tersebut dikhawatirkan akan menekan harga gabah hingga titik terendah,” kata Slamet, Jumat (17/03).
Ketua umum Rumah Petani Nelayan Nusantara (RPNN) ini pun meminta pemerintah untuk tidak membuat gaduh saat musim panen raya dengan melemparkan isu impor.
Menurut Anggota legislatif dapil kabupaten/kota Sukabumi ini, importasi beras bukanlah solusi untuk menekan harga. Sebab, kata Slamet, pada bulan November 2022 hingga Februari 2023 pemerintah sudah mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton dengan alasan yang sama yaitu untuk menekan harga beras di pasaran.
“Jika sekarang harga masih tetap mahal berarti impor bukanlah solusinya. Pemerintah seharusnya menggalakkan sidak di lapangan untuk mengejar para penjahat pemburu rente beras yang diduga membeli beras Bulog dengan harga murah dalam jumlah besar kemudian mengoplosnya lalu dijual dengan harga beras medium dipasaran,” tegas Slamet.
Sebelumnya Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa Pemerintah membuka opsi impor beras 500 ribu Ton.
"Ini kemarin dipimpin presiden, kapanpun diperlukan kita bisa masuk lagi 500 ribu ton. Karena stok Bulog harusnya 1,2 juta ton, sekarang kalau nggak salah tinggal 300-an (ribu ton)," kata Menteri Zulhas saat Raker dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Rabu (15/3/2023).
Sayangnya, Mendag Zulhas tak merinci kapan waktu impor beras dilakukan.
Mendag Zulhas menyampaikan, sebenarnya dia tidak begitu setuju dengan impor beras namun langkah tersebut tidak bisa dihindari mengingat tidak terkendalinya harga beras saat ini.
"Walaupun berat, saya ini sebenarnya nggak setuju impor-impor itu, tapi tidak ada pilihan. Kemarin diputuskan kembali 500 ribu ton, tapi kapan (kalau) diperlukan. Karena sekarang lagi panen raya," kata Zulhas.



