telusur.co.id - Politikus senior sekaligus mantan komandan militer Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Amerika Serikat kini berada dalam posisi “kebuntuan total” setelah perkembangan terbaru di kawasan menyusul konflik yang disebutnya sebagai perang agresi terhadap Iran.

Dalam pidato pada acara peringatan para martir perang di Masjid Imam Khomeini, Rezaei mengatakan pasukan Amerika yang awalnya mengira konflik akan berlangsung singkat kini menghadapi kenyataan perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Ia mengaitkan situasi tersebut dengan sejarah panjang konfrontasi Iran terhadap kekuatan asing, termasuk perang Iran-Irak pada 1980-an dan berbagai tekanan Barat terhadap Republik Islam Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Menurut Rezaei, peringatan tahun ini memiliki makna simbolis karena bertepatan dengan kenangan pembebasan Khorramshahr dari pasukan Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein. Ia menyebut keteguhan rakyat dan militer Iran sebagai faktor utama yang membuat negara itu mampu menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.

Rezaei juga menyinggung dukungan Washington kepada Saddam Hussein selama perang Iran-Irak, termasuk bantuan senjata dan perlindungan diplomatik di Dewan Keamanan PBB. Ia menuduh negara-negara Barat dan sejumlah negara Arab saat itu ikut memperkuat Irak secara finansial dan militer.

Dalam pidatonya, Rezaei membandingkan tindakan Saddam yang membatalkan Perjanjian Aljazair 1975 dengan keputusan Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran 2015 atau JCPOA.

Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan Amerika di kawasan Teluk Persia. Rezaei menyebut AS seperti “bajak laut” yang menyerang Iran namun kemudian terjebak sendiri di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.

Menurutnya, setiap eskalasi militer yang lebih luas akan membuka “koridor gelap” bagi Amerika Serikat yang membentang dari Selat Hormuz hingga Laut Oman, Selat Bab al-Mandab, dan Samudra Hindia.

Rezaei menegaskan bahwa Iran memegang peranan penting dalam menjaga keamanan Selat Hormuz. Ia mengatakan Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC terus memantau lalu lintas kapal dan memastikan jalur pelayaran komersial tetap aman di kawasan Teluk Persia.