telusur.co.id - Perkembangan teknologi digital yang semakin maju menjadi tantangan tersendiri bagi para keluarga dalam memberi perhatian dan pendampingan lebih kepada anak saat menggunakan teknologi. Hal ini dilakukan demi mencegah dampak buruk yang akan terjadi pada anak.

Karena itu, bimbingan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab ketika anak membuat pilihan yang tepat saat menggunakan teknologi, sangat penting dilakukan. 

Koordinator Media dan Publikasi Seknas Jaringan, Heru Prasetia, memaparkan riset dari Microsoft 2020 yang menyatakan bahwa keadaban warga maya Indonesia tergolong buruk. 

Berdasarkan Digital Civility Index (DCI), Indonesia berada di ranking ke 29 dari 32 negara. Digital Civility Index (DCI) adalah indeks yang dibuat Microsoft untuk mengukur perilaku masyarakat di media sosial.

"Dengan hasil tersebut, Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara," kata Heru dalam diskusi daring dalam diskusi #MakinCakapDigital, Kemenkominfo berkolaborasi dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi bertajuk "Peran Keluarga dalam Pendampingan Anak di Era Digital" pada Kamis (4/8/22).

Heru mengingatkan kepada keluarga agar mengajarkan kepada anak bahwa di medsos ada etiket atau tata krama berinternet. Semua yang dilakukan di medsos sama dengan di dunia nyata. 

Sehingga anak harus memilih kata-kata sopan, berkomentar baik, jangan sampai melukai teman atau orang lain, bahkan tanpa sadar menyebarkan data pribadi.

"Kita harus selalu menyadari bahwa kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan yang lain, bukan sekedar dengan deretan karakter huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia sesungguhnya," ujar Heru.

Menurut Dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Makassar, Citra Rosalyn Anwar, literasi digital salah satu kunci dalam mendidik anak. Citra memahami bahwa literasi digital sering dianggap
sebagai kecakapan menggunakan internet dan media digital. 

Namun begitu, acapkali ada pandangan bahwa kecakapan penguasaan teknologi adalah kecakapan yang paling utama. 

"Padahal, literasi digital adalah sebuah konsep dan praktik yang bukan sekadar menitikberatkan pada kecakapan untuk menguasai teknologi. Intinya, kita jangan hanya eksis, tapi juga harus etis. Dan, cakap menjaga privacy diri, anak dan orang lain," kata Citra.

Peneliti di Pusat Pengkajian Pesantren dan Sains Al-Qadir Yogyakarta, Ahmad Wahyu Sudrajad menambahkan, bimbingan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab ketika anak membuat pilihan yang tepat saat menggunakan teknologi, juga sangat penting dilakukan. 

Anak perlu diberi pemahaman akan dampak positif dan negatif dari teknologi. Misalnya, dapat menambah wawasan anak, dapat membangun relasi.

"Memperbanyak teman tanpa harus dibatasi jarak dan waktu. Membangun kreatifitas anak," kata Ahmad.

Tapi, lanjut Ahmad, dampak negatifnya juga perlu disampaikan secara berlahan oleh keluarga. Di mana, penggunaan teknologi secara berlebihan bisa menurunkan prestasi belajar. Kemudian,terlalu sering menggunakan gadget bisa menyebabkan kecanduan.

"Makanya, orang tua milenial dapat menerapkan pola asuh yang bersifat arif, positif, efektif, konstruktif dan transformatif. Pola asuh yang utama adalah effective parenting," ungkap Ahmad.

Informasi lebih lanjut dan acara literasi digital GNLD Siberkreasi dan #MakinCakapDigital lainnya, dapat mengunjungi info.literasidigital.id dan mengikuti @siberkreasi di sosial media.[Fhr]