telusur.co.id - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin meminta aparat berwajib mengusut tuntas pelaku penusuk Menko Polhukam, Wiranto, hingga keakar-akarnya.

"Kejadian seperti itu dapat diselesaikan secara tuntas dengan menyingkap pelakunya dan kemungkinan ada aktor intelektualis di baliknya," kata Din dalam keterangannya yang diterima redaksi, Jumat (11/10/19).

Menurut Din, apa yang dilakukan aparat kepolisian selama ini dengan secara cepat menyimpulkan pelakunya terpapar ekstrimisme atau terkait dengan kelompok radikal (jika terjadi atas pejabat) atau orang gila (jika terjadi atas ulama/tokoh agama) tidak menyelesaikan dan tak akan menuntaskan akar pemasalahan. Kesimpulan seperti itu justru membuat generalisasi yang bakal berbahaya.

"Tentang penyimpulan bahwa pelaku tindak kekerasan adalah orang yang terpapar ekstrimisme dan radikalisme apalagi menyebut Kelompok ISIS, pada hemat saya, merupakan simplifikasi masalah yang tidak akan mengakhiri masalah serta merupakan generalisasi yang berbahaya," ingatnya.

"Sebagian warga masyarakat, khususnya umat Islam, banyak yang sudah merasa bosan dengan pendekatan seperti itu dan akhirnya hilang kepercayaan dan kemudian bersikap abai."

Kemudian, tentang peristiwa yang dialami Wiranto, berdasarkan pemberitaan bahwa pihak keamanan sudah sejak tiga bulan lalu memantau pelaku penusukan.  Pertanyaan, tutur Din, kenapa sekelas Menko Polhukam pun terkena aksi seperti itu.

"Pikiran awam saya bertanya, mengapa justru bisa kebobolan? Rakyat kecil akan merasa lebih terancam keamanannya karena pejabat tinggi, termasuk Menko Urusan Keamanan pun, tidak terjamin keamanannya," papar Din.

Mantan Ketua Umum Muhamadiyah ini memandang, perisitiwa yang menimpa Menko Polhukam itu menujukkan bahwa negara dalam keadaan tidak aman.

"Negara akan dianggap gagal mengemban amanat Konstitusi yakni melindungi rakyat warga negara," imbuhnya.

Tak lupa, sebagai masyarakat cinta damai, Din mengecam berbagai bentuk tindak kekerasan oleh siapapun dan atas nama apapun. Baik atas nama agama ataupun atas nama kepentingan politik, baik tindak kekerasan itu mengenai para pejabat negara maupun tokoh agama.

"Saya bersedih bahwa peristiwa tersebut terjadi dan berdoa semoga Bapak Wiranto sehat walafiat dan dapat kembali menunaikan tugas sehari-hari," tukasnya.