PKS: Pemerintah Jangan Tergoda Kurangi Royalti Batu Bara - Telusur

PKS: Pemerintah Jangan Tergoda Kurangi Royalti Batu Bara


telusur.co.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, meminta Pemerintah menolak permintaan Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) untuk mengurangi royalti penjualan ke negara. Pemerintah, harus patuh pada ketentuan Undang-Undang terkait penetapan besaran royalti penjualan bahan tambang. 

"Jangan sampai Pemerintah tergoda untuk menyetujui dengan alasan apapun," tegas Mulyanto dalam keterangannya, Kamis (3/12/20).

APBI, sebelumnya, meminta Pemerintah mengurangi nilai royalti yang berlaku lantaran harga pasaran batu bara anjlok. Ini diajukan menyusul ditandatangani kesepakatan antara APBI dengan China Coal Transportation and Distribution Association (CCTDA), bulan lalu. 

APBI dan CCTDA sepakat untuk meningkatkan ekspor batu bara dari Indonesia ke China selama tiga tahun. Kesepakatan tersebut bernilai US$ 1,46 miliar atau senilai Rp 20,6 triliun untuk ekspor batu bara ke China sebesar 200 juta ton di 2021. Atas kesepakatan kerjasama itu APBI minta pengurangan royalti karena harga jual batu bara ke China sangat murah. 

Menurut Mulyanto, Pemerintah tidak bisa mengurangi royalti seenaknya. Sebab, ini merupakan pendapatan negara yang menjadi hak masyarakat yang diatur dalam Undang-undang.  

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menjelaskan, penentuan besaran persentase royalti termasuk harga batu bara acuan (HBA) didasarkan pada data empirik baik domestik maupun internasional. Bahkan, HBA dihitung berdasarkan parameter harga domestik dan internasional yang fluktuatif secara bulanan. 

Artinya, HBA mengikuti perubahan harga pasar, sehingga tidak memberatkan pihak pembayar royalti namun cukup adil sebagai penerimaan Negara. Mengingat batu bara adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Selama ini penerimaan Negara dari sektor ini berjalan lancar. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) di sektor mineral dan batu bara pada 2018 mencapai angka Rp 50 triliun. Sekitar 80% dari angka itu berasal dari setoran pengusaha batu bara," jelasnya.

Pada 2019, PNBP sektor minerba memenuhi target APBN sebesar Rp43,2 triliun. Meski untuk target APBN 2020 mengalami penurunan sekitar 20% dengan realisasi sebesar Rp 37 triliun akibat pandemi Covid-19.

“Jadi, soal harga jual yang anjlok ini adalah murni mekanisme pasar, yang berbasis kesadaran bisnis pengusaha dalam mendapatkan untung. Sehingga tidak adil kalau resiko bisnis tersebut dibebankan ke Negara melalui pengurangan penerimaan Negara," pungkasnya.[Fhr]


Tinggalkan Komentar