telusur.co.id - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi melantik Dekan Fakultas Kedokteran Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG., Subsp.F.E.R. Dokter yang akrab disapa Prof Bus ini diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan FK Unusa yang kini telah dipercaya untuk menjalankan dua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yakni Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.
Prof Bus menjelaskan bahwa, dalam kondisi di Surabaya saat ini, dimana tumbuh penyelenggara pendidikan kedokteran yang banyak berdiri, kata kompetisi bukan menjadi tujuan utama, melainkan bekerja sama dan berkolaborasi dalam memberikan yang terbaik.
Menurutnya, terdapat kesenjangan antara FK baru dengan FK yang sudah lebih dulu berdiri. Tak dapat dipungkiri kesenjangan itu ada pada kualitas pendidikannya. Namun melihat dari hasil evaluasi outcome Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), Unusa termasuk yang terbaik.
“Dengan kualitas yang telah dicapai ini, kami tinggal mempertahankan dan bisa meningkatkan. Tentunya jika berbicara mengenai kualitas outcome ini harus dimulai dari inputnya,” tutur eks Dekan FK Unair periode 2020-2025 ini kepada awak media. Jumat, (13/3/2026) pagi.
Oleh karena itu, untuk memiliki input yang baik maka harus memiliki standar batas minimal kemampuan akademik seorang calon mahasiswa kedokteran yang ditetapkan dengan baik. Langkah inilah yang akan dilakukan Prof Bus pertama kali dalam memperbaiki outcome dari FK Unusa.
“Parameter outcome ini ya dari hasil UKMPPD tadi,” beber pria kelahiran Banyuwangi 1963 ini.
Dalam amanat pelantikan, Rektor Unusa Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng. Menegaskan. sejumlah pesan penting yang menjadi arah pengembangan fakultas ke depan. Rektor menekankan, tiga poin utama yang harus menjadi perhatian kepemimpinan dekan baru.
Pertama, penguatan tata kelola fakultas yang transparan dan akuntabel. Kedua, berkaitan dengan akselerasi peningkatan kualitas dan akreditasi pendidikan. Ketiga, mendorong penguatan riset, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari kontribusi akademik fakultas kedokteran.
“Pendidikan kedokteran tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter para dokter,” tutup Rektor ITS 2011-2015 ini. (ari)



