telusur.co.id - Korea Utara mengecam keras serangan terbaru Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Melalui kantor berita negara KCNA, Pyongyang menyebut tindakan Washington sebagai “pelanggaran mencolok” terhadap hukum internasional dan contoh lain dari “sifat jahat dan biadab” Amerika Serikat.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa pihaknya memahami beratnya situasi yang kini dihadapi Venezuela, yang menurutnya disebabkan oleh “tindakan paksaan” AS. Ia memperingatkan bahwa meningkatnya ketidakstabilan hanya akan memperburuk kondisi regional yang sudah rapuh.

“Insiden ini menjadi contoh lain dari sifat jahat dan biadab Amerika Serikat, sifat yang telah disaksikan oleh komunitas internasional berkali-kali selama bertahun-tahun,” tegas pernyataan resmi kementerian tersebut.

Pyongyang menggambarkan serangan AS sebagai bentuk hegemoni dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara lain. Tindakan itu disebut melanggar prinsip dasar Piagam PBB, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan, tidak campur tangan dalam urusan internal, serta integritas wilayah. Korea Utara mendesak komunitas internasional untuk menyuarakan protes terhadap Washington dan menanggapi serius krisis Venezuela, yang dinilai membawa konsekuensi buruk bagi stabilitas regional dan hubungan internasional.

Sementara itu, pemerintah Venezuela pada Sabtu (3/1) menyatakan bahwa AS telah menyerang instalasi sipil dan militer di sejumlah negara bagian, sehingga Caracas menetapkan keadaan darurat nasional. Presiden AS Donald Trump kemudian mengonfirmasi adanya serangan “berskala besar” dan memastikan bahwa Maduro bersama istrinya telah ditangkap serta dibawa ke pusat penahanan di New York.

Serangan ini terjadi setelah berbulan-bulan tekanan AS terhadap Maduro, yang dituduh Washington terlibat dalam perdagangan narkoba. Maduro membantah tuduhan tersebut dan sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk berdialog.  [ham]