Telusur.co.id - Oleh : Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Siang kemarin.
Sepulang halal bihalal KADIN.
Di perjalanan, radio Suara Muslim mengalun pelan.
Tiba-tiba terdengar lagu lama dari Ahmad Dhani bersama Dewa 19.
Sederhana, tapi langsung “kena”.
Hadapi dengan senyuman…
lalu…
menyerahlah untuk menang.
Hal ini relate dengan tulisan saya 2 hari lalu.
Di situlah terasa, inspirasi itu tidak harus datang dari ruang resmi. Tidak harus dari forum ilmiah. Tidak harus saat kita sedang serius mencari. Kadang justru datang dari hal yang sederhana, radio. Dalam perjalanan, bahkan lagu lama. Bedanya hanya satu, hati kita sedang “connect” atau tidak.
Kalimat hadapi dengan senyuman sering kita dengar, tapi jarang kita hayati. Senyum bukan berarti masalahnya ringan. Senyum itu tanda bahwa, hati kita tidak sedang melawan takdir. Seperti sistem yang stabil, meskipun beban tinggi, tapi tetap berjalan tanpa error. Senyum adalah indikator bahwa, sistem batin kita masih terhubung.
Lalu masuk ke kalimat kedua, menyerahlah untuk menang. Ini yang lebih dalam. Dalam logika manusia, menyerah itu identik dengan kalah. Tapi dalam logika langit, justru di situlah kemenangan dimulai.
Bukankah ini sejatinya makna dari La haula wa la quwwata illa billah? Tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali dari Allah.
Selama kita merasa kuat, sebenarnya kita sedang membatasi diri. Selama kita merasa mampu, kita sedang menutup pintu pertolongan yang lebih besar. Seperti orang berenang, semakin panik ia mengayuh, justru semakin tenggelam. Tapi saat ia tenang dan mengikuti aliran, tubuhnya justru mengapung.
Menyerah dalam makna ini bukan berhenti. Bukan juga pasif. Tapi memindahkan pusat kendali. Dari saya ke Allah. Seperti sistem autopilot, saat kendali manual sudah mencapai batas, kita serahkan ke sistem yang lebih canggih, lebih presisi, dan lebih tahu arah.
Dalam hidup, kita tetap berpikir, tetap berusaha, tetap bergerak. Tapi di dalam hati, kita lepaskan semua klaim kepemilikan. Kita akui dengan jujur. “Ya Allah, saya tidak punya daya. Saya tidak punya kekuatan. Semua dari-Mu.”
Di situlah La haula bukan hanya dibaca, tapi dirasakan. Bukan hanya di lisan, tapi menjadi sistem kerja batin.
Menariknya, lagu yang diputar di radio itu bukan ceramah, bukan ayat. Tapi ketika hati tersambung, ia berubah menjadi pengingat. Seolah Allah sedang berbicara lewat cara yang sederhana.
Seperti sinyal. Gelombangnya ada di mana-mana. Tapi hanya yang tepat, yang sefrekuensi, yang bisa menangkap. Hati yang terhubung akan menangkap makna, di mana pun sumbernya.
Maka saat hidup terasa berat, mungkin yang perlu kita lakukan bukan menambah tenaga, tapi mengubah posisi. Dari menggenggam menjadi melepaskan. Dari tegang menjadi tenang. Dari merasa mampu menjadi berserah.
Hadapi dengan senyuman, karena kita percaya. Menyerahlah untuk menang, karena kita sadar.
Dan di situlah, yang lemah menjadi kuat, yang buntu menemukan jalan, yang berat menjadi ringan.
Semua kembali ke satu titik, illa billah.
*Penulis adalah Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Alumnus ITS93 Teknik Elektro, dan Penggagas Ekowisata Mangrove bersama masyarakat Gunung Anyar Tambak, Surabaya pada tahun 2010.



