telusur.co.id - Untuk menjaga pertumbuhan positif sektor pertanian, yang tumbuh sebesar 0,38 persen pada triwulan kedua 2021 (yoy) atau meningkat 12,93 persen dari kuartal sebelumnya, perlu adanya dukungan berupa perluasan akses petani pada asupan pertanian yang bermutu serta juga akses pasar yang lebih baik.
“Input pertanian yang berkualitas merupakan salah satu faktor pendukung produktivitas pangan. Namun belum semua petani dapat mengakses dan menggunakan input secara optimal. Misalnya saja masih terjadi kelangkaan dan harga pupuk yang tinggi,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta.
Selain akses pada pupuk terjangkau, produktivitas pertanian juga masih terkekang oleh ketersediaan infrastruktur irigasi yang belum merata di semua wilayah, lanjutnya.
Pemerintah mengelola infrastruktur irigasi utama seperti bendungan serbaguna untuk irigasi, air baku untuk industri dan rumah tangga, listrik, dan penggunaan lainnya dan juga saluran air primer dan sekunder, sementara pada tingkat tersier dikelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), lembaga komunal dengan organisasi yang cenderung sederhana namun memiliki banyak peran.
Permasalahan akses terhadap air dari sistem irigasi di tingkat petani disebabkan oleh kekurang mampuan P3A dalam mengatur ketersediaan air di seluruh petak pertanian dan beberapa studi juga menunjukkan ketidakpuasan petani atas kinerja perawatan dan operasional sistem irigasi oleh P3A, yang berujung pada keengganan membayar iuran pelayanan irigasi.
Input pertanian lain yang juga memerlukan perhatian adalah benih. Menurut Kementerian Pertanian, penggunaan benih padi hibrida yang memiliki rendemen tinggi masih sangat rendah, hanya sekitar 10% pada tahun 2020. Benih padi yang populer di kalangan petani didominasi Ciherang dan Mekongga, dengan potensi hasil rata-rata 5-7 ton gabah per hektar.
Selain input pertanian, Aditya juga menyoroti perlunya pembukaan akses pasar untuk petani, terutama untuk komoditas segar seperti sayur dan buah-buahan. Agar hasil pertanian dapat diserap secara optimal, diperlukan peningkatan infrastruktur pendukung seperti transportasi dan pergudangan serta perdagangan ritel, mendorong kemitraan dengan penjamin (offtaker) dan di sisi konsumen untuk meningkatkan daya beli mereka.
Pertanian merupakan salah satu sektor yang masih mampu memperlihatkan laju pertumbuhan positif yang konsisten di saat pandemi. Saat triwulan II-2020, perekonomian Indonesia terkontraksi secara dalam sebesar 5,3 persen, laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap bisa tumbuh 2,20 persen saat itu. Konsistensi pertumbuhan positif pada sektor pertanian terus berlanjut pada kuartal-kuartal berikutnya. Tercatat pada Triwulan III dan Triwulan IV tahun lalu, sektor pertanian mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 2,16 persen dan 22,5 persen. [ham]



