telusur.co.id - Aktivis Hak Azasi Manusia yang juga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Golfrid Siregar menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Minggu (6/10/2019).

Ia sempat dikabarkan hilang pada hari Rabu, 2 Oktober 2019. Dan ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di fly over Simpang Pos Jalan Jamin Ginting, Medan, sehari kemudian, sekitar pukul 01.00 dini hari.

Dirinya pertama kali ditemukan oleh penarik becak yang kebetulan melintas di kawasan tersebut. Kemudian, korban dibawa ke RS Mitra Sejati lalu diarahkan untuk ditangani ke RSUP Haji Adam Malik.

Menurut keterangan polisi, Golfrid menjadi korban kecelakaan tabrakan lalu lintas.

Direktur Walhi Sumut Dana Prima Tarigan menilai banyak kejanggalan dari peristiwa yang menimpa almarhum Golfrid, sebab kepala korban mengalami luka serius seperti dipukul keras dengan senjata tumpul.

“Selain bagian kepala, bagian tubuhnya tidak mengalami luka yang berarti. Sementara itu barang-barang korban seperti tas, laptop, dompet dan cincin juga raib,” kata Dana kepada wartawan.

Ia menyebutkan hal itu menunjukkan bahwas Golfrid tidak hanya menjadi korban kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan ada indikasi menjadi korban kekerasan oleh oknum dengan tujuan tertentu.

“Berkendara di malam hari menjadi sangat berbahaya. Korban mengalami kekerasan hingga nyawanya terenggut. Hal ini menunjukkan Kota Medan menjadi semakin tidak aman,” katanya.

Walhi Sumut mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas penyebab kejadian yang menimpa Golfrid.

“Jika polisi serius, maka tidak akan sulit untuk mengungkapnya. Hal ini mengingat kejanggalan yang secara kasat mata terlihat, dari luka-luka yang dialami almarhum,” kata Dana Prima Tarigan.

Penjelasan Pihak RS

RSUP Adam Malik mengatakan bahwa Golfrid Siregar sempat menjalani operasi karena mengalami pendarahan di bagian kepala.

Kasubbag Humas RSUP Adam Malik Medan Rosario Dorothy mengatakan, setelah sempat diperiksa dan ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD), ternyata pasien berstatusnya emergensi dan harus segera dilakukan operasi.

"Saat tiba, kondisi pasien sudah tidak sadarkan diri dan alami pendarahan di bagian kepala yang cukup hebat," katanya.

Setelah dioperasi, kata dia, pasien dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) Pascabedah, namun kondisi pasien tetap tidak sadarkan diri.

Mengenai apakah ada penyakit yang menyebabkan kematian Golfrid Siregar, Rosario mengatakan karena faktor pendarahan di bagian kepala.

"Dari hasil pemeriksaan dokter, yang memberatkan, ya, karena itu, karena benturan di bagian kepala sehingga mengakibatkan pendarahan yang cukup hebat," katanya. [ipk]