telusur.co.id - Oleh : Denny JA
Suatu pagi di kaki Bukit Barisan, seorang ayah menggali tanah dengan tangan kosong. Ia tidak mencari emas. Ia mencari tubuh anaknya yang terseret arus semalam.
Di sekelilingnya, lumpur masih hangat. Pohon pohon tumbang seperti tentara yang kalah perang. Sungai yang dulu jinak kini mengalir keruh, membawa kayu, atap rumah, dan sisa sisa kehidupan yang tak sempat diselamatkan.
Langit telah kembali biru. Matahari bersinar seolah tak terjadi apa apa.
Tetapi di dada sang ayah, musim hujan belum berhenti.
Di penghujung 2025, banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Lebih dari 1.100 jiwa melayang. Ribuan rumah hancur. Sekolah menjadi tenda darurat. Sawah berubah menjadi kubangan. Kerugian dihitung dalam puluhan triliun rupiah.
Namun angka hanyalah kulit luar.
Luka yang sesungguhnya tidak tercatat dalam statistik.
Dari luka itulah buku ini lahir.
Buku Sumatra Menangis bukan sekadar antologi. Ia adalah kesaksian moral kolektif.
Sebanyak 131 karya ditulis oleh 89 penulis dalam empat genre: 40 esai, 70 puisi, 14 puisi esai, dan 7 cerpen. Buku ini digagas sebagai kerja bersama SATUPENA, bukan satu suara dominan, melainkan pertemuan banyak nurani.
Di dalamnya kita menemukan wajah-wajah korban. Kita mendengar suara ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan rumah, petani yang kehilangan tanah, dan generasi yang kehilangan rasa aman.
Namun buku ini tidak berhenti pada air mata. Ia melangkah lebih jauh dan menggugat sebab.
Beberapa tulisan paling mengguncang menyebut tragedi ini sebagai bunuh diri ekologis. Bukan bunuh diri dengan senjata, melainkan dengan kebijakan rabun, tata ruang yang abai, dan keserakahan yang dilegalkan.
Puisi-puisi di dalamnya mempersonifikasikan lumpur sebagai saksi, sungai sebagai korban, dan bumi sebagai makhluk hidup yang lelah.
Di antara 131 karya itu, satu benang merah mengikat semuanya.
Bencana bukan takdir murni. Ia konsekuensi tindakan manusia.
Banjir dan longsor bukan sekadar peristiwa meteorologi. Hujan adalah pemicu. Tetapi pemicu selalu bertemu dengan kondisi yang telah rapuh.
Pertama, deforestasi.
Hutan adalah sistem penyangga air. Akar akar pohon menahan tanah, memperlambat limpasan, dan menyerap curah hujan. Ketika hutan ditebang untuk ekspansi perkebunan, pertambangan, atau pembangunan jalan, lanskap kehilangan rem alaminya. Air tidak lagi meresap perlahan. Ia meluncur deras, membawa tanah, batu, dan rumah.
Hutan yang hilang bukan sekadar hilangnya pohon. Ia adalah hilangnya penyangga kehidupan.
Kedua, tata ruang yang tidak disiplin.
Daerah resapan berubah menjadi beton. Lereng dibuka tanpa konservasi. Sungai disempitkan oleh bangunan dan sedimentasi. Kontrak antara manusia dan alam dilanggar. Ketika air kehilangan ruangnya, ia menciptakan ruangnya sendiri dengan kekerasan.
Ketiga, krisis iklim global.
Atmosfer yang lebih hangat menyimpan lebih banyak uap air. Ketika dilepaskan, hujan turun lebih deras dalam waktu singkat. Krisis iklim memperbesar risiko yang telah ada. Ia mempercepat apa yang sudah rapuh.
Dengan kata lain, yang mematikan bukan hanya hujan, melainkan runtuhnya daya tahan ekologis.
Alam tidak tiba tiba marah.
Ia merespons akumulasi pilihan.
Tragedi Sumatra bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia memiliki gema dalam sejarah dunia.
Dalam Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, 2005, Jared Diamond menunjukkan bahwa peradaban sering runtuh bukan semata karena alam, tetapi karena keputusan ekologis yang keliru dan terus dipertahankan. Deforestasi, tata kelola yang lemah, dan kepentingan jangka pendek menciptakan kerentanan struktural. Ketika tekanan alam datang, masyarakat yang rapuh akan runtuh.
Dalam Rising Tide: The Great Mississippi Flood of 1927 and How It Changed America, 1997, John M. Barry mengisahkan bagaimana hujan besar bertemu dengan lanskap yang telah direkayasa secara agresif melalui tanggul, kanal, dan kebijakan yang salah arah. Banjir menjadi bukan sekadar air, tetapi peristiwa politik dan moral. Ia memperlihatkan siapa yang dilindungi dan siapa yang dikorbankan.
Kedua buku itu mengingatkan bahwa, bencana selalu memiliki dimensi ekologis sekaligus etis.
Namun judul buku ini tidak berhenti pada tangis. Ia mengajak pada gerakan.
Mencintai bumi kembali bukan romantisme. Ia adalah disiplin kebijakan. Ia adalah tata ruang yang taat pada daya dukung lingkungan. Ia adalah ekonomi yang menghitung keberlanjutan, bukan sekadar laba jangka pendek. Ia adalah spiritualitas yang memandang alam bukan sebagai objek, melainkan rumah bersama.
Jika tangis Sumatra adalah alarm, maka gerakan mencintai bumi kembali adalah jawabannya.
Buku ini menyatukan air mata, analisis, dan harapan. Ia merangkum empati dan pengetahuan dalam satu kesadaran bahwa kita masih memiliki pilihan.
Sastra adalah kompas moral saat kebijakan kehilangan peta. Melalui tulisan, kita mengubah duka menjadi tenaga, memastikan setiap air mata Sumatra bertransformasi menjadi komitmen nyata untuk memulihkan kembali rumah kita bersama.
Gerakan ini menuntut keputusan yang konkret: membatasi izin di hulu DAS, memulihkan hutan yang gundul, menata ulang kota sesuai daya dukung, serta melibatkan korban dalam setiap rancangan kebijakan.
Setiap bencana menyisakan dua kemungkinan. Kita bisa menganggapnya episode lalu melupakan. Atau kita membacanya sebagai peringatan lalu berubah.
Sumatra Menangis memilih kemungkinan kedua.
Ia mengubah angka menjadi wajah.
Ia mengubah lumpur menjadi cermin.
Ia mengubah tangis menjadi tekad.
Dan di kaki Bukit Barisan itu, bayangan sang ayah yang menggali tanah dengan tangan kosong tidak boleh kita biarkan menjadi sekadar cerita.
Ia adalah panggilan.
Bumi mungkin terluka. Tetapi manusia masih memiliki nurani.
Selama nurani itu hidup, gerakan mencintai bumi kembali bukanlah utopia. Ia adalah keputusan peradaban.
Apakah kita akan terus memperbaiki setelah runtuh,
atau mulai merawat sebelum hancur.
Buku ini berdiri sebagai ajakan.
Bukan hanya untuk membaca,
melainkan untuk memilih masa depan yang lebih bertanggung jawab.
*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum SATUPENA, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).



