telusur.co.id, Jakarta – Rencana penggabungan (merger) BUMN di bidang ultra mikro mendapatkan pertentangan dari karyawan PT. Pegadaian (Persero). Mereka secara kompak memasang pita hitam di lengan kiri sebagai tanda protes terhadap rencana aksi holding yang akan dilakukan pemerintah, Selasa (16/2). Aksi pasang pita hitam disebut dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.
Diketahui, Pemerintah berencana melakukan holding BUMN yang bergerak di bidang ultra mikro. Adapun Holding itu melibatkan 3 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Pegadaian, dan PT Bank Rakyat Indonesia ( BRI). Nantinya PNM dan Pegadaian akan berada di bawah konsolidasi BRI.
Serikat Pekerja PT. Pegadaian (Persero) mengaku bertanggungjawab terhadap aksi pasang pita hitam. Ketua Serikat Pekerja PT Pegadaian. Ketut Suhardiono mengatakan aksi ini dilakukan secara spontan oleh karyawan karena pemerintah tidak merespon dengan baik tuntutan penolakan holding ultra mikro.
"Itu ekspresi perasaan karyawan pegadaian. Mereka mengekpresikan penolakan dengan pasang pita hitam. Itu simbol duka dan solidaritas mereka," kata Ketut melalui keterangannya, Selasa (16/01/2020) sore.
Menurut Ketut, pemerintah dan manajemen PT Pegadaian semestinya tak mengabaikan tuntutan ini. Pasalnya, jika perasaan kolektif ini diremehkan, dirinya khawatir eskalasi aksi ini bakal terus meningkat. "Setelah pita hitam, akan ada inisiatif aksi yang lain. Serikat Pekerja meminta pemerintah memperhatikan hal ini," tuturnya.
Aksi ini diklaim akan berlangsung hingga akhir Februari. Meski demikian, Ketut memastikan layanan terhadap nasabah tetap akan berjalan seperti biasanya.



