telusur.co.id - Sekretaris Kementrian Koperasi dan UKM Rully Indrawan mengatakan, dalam sistem perekonomian nasional, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ibaratnya seperti 'raksasa yang tengah tertidur '.
"Betapa tidak sektor ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam jumlah tenaga kerja, maupun lapangan pekerjaan, namun dalam hal penguasaan aset sangatlah kecil dibanding dengan usaha besar yang jumlahnya hanya mencapai 5 atau 6 ribu pelaku, demikian juga dengan kredit dimana UMKM hanya mendapat maksimum 20% dari total kredit perbankan, "ujar Rully di Jakarta, Rabu (9/10/19).
Rully memaparkan dengan jumlah pelaku mencapai 63 juta dan menyumbang 97 % total tenaga kerja, 99 % lapangan kerja, 60,34 % total PDB dan14,3% total ekspor. Seharusnya, UMKM bisa berbuat lebih banyak lagi dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
"Namun harus diakui banyak hal yang membuat itu tidak atau belum terjadi," ujarnya.
Ketimpangan sistem ekonomi dan distribusi aset ini yang sedikit banyak membuat Indonesia terjebak dalam 5% growth trap atau jebakan pertumbuhan ekonomi di sekitar 5% saja.
Karena itu Rully sepakat, kontribuai UMKM harus terus ditingkatkan dalam perekonomian nasional. Untuk itu perlu ada keberpihakan, perlindungan dan pemberian kesempatan lebih besar pada UMKM.
"Era digitalisasi saat ini bisa dijadikan salah satu jalan untuk membesarkan UMKM melalaui berbagai regulasi maupun peningkatan kapasitas pelaku UMKM, " ujar Rully.
Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi pada 2020- 2024 antara 5,4%- 6,0%, dimana diharapkan UMKM bisa menjadi rohnya pembangunan ekonomi nasional. [asp]
Laporan : Tio Pirnando



