telusur.co.id - Koordinator Forum Rakyat, Lieus Sungkharisma melaporkan seorang pria yang terekam dalam audio yang beredar via WhatsApp, dimana pria itu memberi arahan untuk membuat kerusuhan di beberapa titik di Ibukota seperti pada tahun 1998 dengan tujuan melengserkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Pelaporan terhadap pria dalam rekaman audio itu ke Polda Metro Jaya (PMJ) dilakukan Lieus pada Minggu (29/9/19) malam. Lieus mengaku tidak setuju dengan rencana melengserkan Jokowi apalagi menggunakan cara-cara inkonstitusional.
"Kalau memang tidak suka dengan pemerintahan Pak Jokowi ya saya kira sah saja dikritik sebagaimana biasanya.
Hak kita sebagai warga negara kan bersuara itu boleh, berunjuk rasa boleh karena dilindungi undang-undang," kata Lieus, Senin (30/9/19).
Tapi, kata Lieus, kalau sudah menyuruh orang untuk membakar, itu sudah menyesatkan.
"Bernegara dan berdemokrasi yang sesat itu," ujar Lieus.
Menurut Lieus, rakyat Indonesia juga tidak akan mentolerir rencana menciptakan kerusuhan untuk melengserkan Jokowi.
"Saya berkeyakinan tidak ada rakyat Indonesia yang mentolerir untuk main bakar-bakar demi kepentingan dan kehendak kelompok-kelompok tertentu," ungkapnya.
Selain itu, Lieus membeberkan bahwa sebelum dirinya melaporkan pria tersebut, ia lebih dulu berkonsultasi dengan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad yang menjadi penjamin penangguhan penahanan dirinya di kasus dugaan makar.
"Karena saya dulu pernah dituduh makar dan yang menjamin adalah Bang Dasco, saya tanya dulu ke Bang dasco 'laporin boleh nggak yang begini?' bang Dasco bilang lapor. Makanya saya ke sini (PMJ)," ucap dia.
Dia melanjutkan, setelah berkonsultasi dengan Dasco, dia kemudian menyambangi Polda Metro Jaya dan sempat bertemu dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Suyudi Ario Seto.
Dari pertemuan itu, Lieus mendapat informasi bahwa pihak kepolisian telah meringkus pria dalam rekaman audio tersebut.
"Luar biasa. Saya ketemu Direktur Reserse Kriminal Umum Pak Suyudi, beliau luar biasa gesit, ternyata polisi sudah melakukan penangkapan dan akan menyidik," ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, dalam rekaman audio yang beredara pada Senin (30/9/2019), pria tersebut mengusulkan supaya berbuat rusuh di sejumlah oertokoan, showroom, hingga mal milik etnis Tionghoa.
Pria dalam rekaman suara berdurasi 1 menit 9 detik itu mengatakan, tempat- tempat usaha milik etnis Tionghoa merupakan titik rusuh paling tepat ketimbang di Gedung DPR atau kantor polisi.
Menurutnya, jika terjadi kerusuhan seperti tahun 1998 dan etnis Tionghoa merasa terganggu, maka mereka bakal berusaha mencari cara untuk melengserkan Presiden Jokowi.
Berikut kutipan rekaman audio pria tersebut:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada kawan-kawan, ini ada masukan dari beberapa orang termasuk dari saya juga, bahwasanya kita lebih baik kalau kumpul di beberapa titik. Yang kita rusuh itu bukan kantor DPR atau Kapoldanya, tapi showroom- showroom Cina misalnya, toko-toko Cina dan usaha-usaha Cina, mal-mal.
Sebab apa? Kalau Cina-Cina sudah merasa terganggu pasti dia akan berusaha untuk gimana Jokowi ini bisa turun gitu. Kalau kita ke DPR nggak ada orang disana, percuma gitu. Seperti tahun 1998, begitu juga dilakukan toko-toko Cina, di ganggu tokoh-tokoh Cina kita rusuh, itu baru bisa turun dia (Jokowi). Cina-Cina itu yang membuat pemimpin-pemimpinnya turun sebenarnya.
Itu aja sih, mohon masukan dan saran yang lain. Terima kasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [asp]
Laporan : Fahri Haidar



