Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan Surabaya Ajak Masyarakat Manfaatkan Layanan Papsmear

by Arianto Deni |
Cegah Kanker Serviks, BPJS Kesehatan Surabaya Ajak Masyarakat Manfaatkan Layanan Papsmear
BPJS Kesehatan mengajak 415 peserta JKN yang terdiri atas masyarakat umum dan anggota Jalasenastri untuk menjalani pemeriksaan Papsmear di RSPAL dr. Ramelan Surabaya (Ist)

SURABAYA - Dalam rangka meningkatkan upaya promotif dan preventif melalui pemanfaatan skrining kesehatan, BPJS Kesehatan mengajak 415 peserta JKN yang terdiri atas masyarakat umum dan anggota Jalasenastri untuk menjalani pemeriksaan Papsmear di RSPAL dr. Ramelan Surabaya pada Kamis (29/10). Langkah ini merupakan tindak lanjut dari hasil skrining riwayat kesehatan bagi peserta JKN yang teridentifikasi berisiko kanker leher rahim (serviks).

“Upaya ini sebagai wujud nyata pemenuhan hak peserta JKN untuk memperoleh layanan deteksi dini yang berkualitas, sekaligus mendukung upaya pencegahan dan penanganan kanker serviks secara lebih efektif. Selain itu, juga menjadi ikhtiar kami untuk menekan angka kasus kanker serviks di Indonesia,” papar Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surabaya, Muhammad Aras.

Dalam pelaksanaannya, BPJS Kesehatan berkolaborasi dengan Laboratorium Parahita, tenaga kesehatan RSPAL dr. Ramelan, serta organisasi profesi, seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Surabaya. Keterlibatan IBI dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen organisasi dalam memperkuat peran bidan untuk mendukung upaya promotif dan preventif, khususnya melalui deteksi dini kanker serviks.

“Pemeriksaan Papsmear ini salah satu keuntungan yang diberikan kepada peserta JKN, khususnya perempuan yang sudah menikah. Peserta dapat memanfaatkan layanan Papsmear secara rutin satu kali dalam setahun melalui laboratorium yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Di Surabaya, kami telah bekerja sama dengan 11 laboratorium,” tandas eks Kepala BPJS Kesehatan Cabang Makassar ini.

Aras menambahkan, selama Oktober - November 2026, BPJS Kesehatan memberikan kemudahan bagi komunitas yang memiliki anggota berstatus peserta JKN aktif untuk menghadirkan layanan Papsmear di rumah atau kantor. Kemudahan ini dapat dimanfaatkan dengan syarat komunitas menghimpun minimal 20 peserta.

“Saya berharap kemudahan pemeriksaan Pap smear ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peserta JKN untuk meningkatkan kepedulian perempuan terhadap kesehatan reproduksi. Dengan demikian, tidak ada lagi kasus kanker serviks yang baru terdeteksi pada stadium lanjut,” imbuhnya.

Dukungan terhadap kegiatan pemeriksaan Papsmear juga disampaikan oleh Kepala RSPAL dr. Ramelan, Mukti Fahimi. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan ini penting dilakukan mengingat angka kematian akibat kanker serviks masih cukup tinggi. Risiko kanker serviks juga perlu menjadi perhatian, terutama bagi perempuan yang telah menikah dan aktif secara seksual.

“Kanker serviks umumnya disebabkan oleh infeksi jangka panjang akibat Human Papillomavirus (HPV), bukan karena mutasi genetik. Apabila terdeteksi sejak dini, peluang keberhasilan pengobatan akan lebih besar melalui penanganan yang sesuai dengan kondisi pasien,” lugas Mukti.

Menurutnya, banyak pasien yang datang ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) ketika kanker serviks telah memasuki stadium lanjut, bahkan stadium III ke atas. Padahal, pemeriksaan Pap smear merupakan salah satu metode gold standard untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim sejak dini, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi kanker.

Sementara itu, salah satu peserta JKN asal Surabaya, Tri Wahyuni Aristin (57), membagikan pengalamannya saat menjalani pemeriksaan Papsmear. Ia mengaku rutin memanfaatkan layanan JKN untuk pemeriksaan Papsmear satu kali dalam setahun.

“Saya bersyukur BPJS Kesehatan menanggung biaya pemeriksaan Papsmear sebagai salah satu upaya untuk mencegah kanker serviks. Terlebih, penyakit ini menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan oleh perempuan karena dapat menyebabkan kematian,” tegas Wahyuni.

Wahyuni menambahkan, pemanfaatan JKN sebaiknya tidak terbatas pada pemeriksaan Papsmear. Menurutnya, terdapat berbagai layanan yang dimanfaatkan peserta untuk mendeteksi risiko penyakit berbahaya. Untuk itu, peserta JKN perlu melakukan skrining riwayat kesehatan rutin satu kali dalam setahun. risiko penyakit kronis dapat diketahui lebih awal sehingga langkah pencegahan dan penanganan dapat segera dilakukan.

“Saya berharap BPJS Kesehatan terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai layanan promotif dan preventif yang dapat dimanfaatkan peserta JKN. Selama ini, masih banyak masyarakat yang mengira JKN hanya dapat digunakan ketika sakit. Padahal, BPJS Kesehatan juga berupaya mendorong pencegahan penyakit dan menekan angka kejadian penyakit kronis di Indonesia,” tutupnya. (bp/md/ari)

Komentar

Berita Terkait