Bamsoet: SDM Yang Tak Kuasai  Literasi Digital, Berlahan Akan Tersingkir

Ketua MPR  Bambang Soesatyo alias Bamsoet / Net

telusur.co.id - Ketua MPR  Bambang Soesatyo alias Bamsoet mengingatkan para pendidik (guru) dan peserta didik (generasi muda) bahwa pola kerja secara global telah berubah drastis. 

Menurut dia, dampak relokasi industri adalah aplikasi otomatisasi yang intensif dan masif yang mengubah persyaratan pekerjaan yang bersifat digital. 

"Sumber daya manusia yang tidak menguasai literasi digital, cepat atau lambat akan tersingkir. Globalisasi yang ditopang dengan lompatan kemajuan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan tranportasi terus mengalami pendalaman yang semakin dipermudah oleh revolusi industri 4.0," ujar Bamsoet dalam  Seminar Kebangsaan 'Penguatan Vokasi yang Unggul, Berdaya Saing, dan Berwawasan Kebangsaan', di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/11/19).

Kandidat Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan, salah satu dampak Revolusi Industri 4.0 adalah terbentuknya pasar hiperkompetitif yang menuntut kreativitas dan inovasi, menguras sumber daya keuangan, dan dapat mengucilkan sumber daya manusia dari lingkungan industri karena alasan efisiensi. Tantangan baru dunia kerja di era Revolusi Industri 4.0 adalah integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi.

"Karakteristik Revolusi Industri 4.0 ini meliputi digitalisasi, optimalisasi dan customisasi produksi, otomasi dan adapsi, interaksi antara mesin dan manusia, nilai tambah jasa dan bisnis, automatic data exchange and communication, dan penggunaan teknologi internet. Tantangan tersebut, harus dapat diantisipasi melalui transformasi pasar kerja Indonesia dengan mempertimbangkan perubahan iklim bisnis dan industri," jelas Bamsoet.

Oleh karena itu, Ia  mendorong dunia pendidikan dan dunia industri harus dapat mengembangkan industrial transformation strategy. Salah satunya dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten.

"Di sinilah kita merasakan betapa pentingnya menyelenggarakan pendidikan vokasi dan profesi dalam rangka menghasilkan lulusan yang mampu bekerja atau berusaha secara produktif. Pendidikan vokasi dan profesi menawarkan program-program pendidikan dan pelatihan jenis jenis kecakapan atau keahlian yang dibutuhkan oleh angkatan kerja melalui berbagai jalur pendidikan," tandasnya.[Asp]

Laporan : Tio Pirnando

Tinggalkan Komentar