Telusur.co.id - Oleh : Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Tanggal 2 Juni 2026 menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
Tepat 38 tahun yang lalu, pada 2 Juni 1988, sebuah institusi pendidikan vokasi lahir dengan ukuran yang relatif kecil, tetapi dengan cita-cita yang besar.
Saat itu hanya ada dua program studi: Elektronika dan Telekomunikasi. Masing-masing terdiri dari dua kelas dengan 30 mahasiswa per kelas. Total mahasiswa angkatan pertamanya sekitar 120 orang.
Tidak banyak yang membayangkan bahwa kampus kecil tersebut kelak tumbuh menjadi salah satu kampus vokasi terbaik di Indonesia.
Melalui berbagai karya, inovasi, dan kontribusinya kepada dunia pendidikan maupun industri, PENS terus menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional maupun internasional.
PENS juga pernah mencatatkan prestasi membanggakan pada berbagai pemeringkatan inovasi internasional dan menjadi salah satu kampus vokasi paling inovatif di Indonesia.
Sebuah capaian yang tentu tidak lahir dalam semalam, melainkan hasil dari kerja keras, budaya kualitas, dan dedikasi yang dibangun selama puluhan tahun.
Mulai tahun ini, jumlah mahasiswa baru telah mendekati 3.000 orang. Program studinya berkembang menjadi 29 program studi yang mencakup jenjang Diploma III, Sarjana Terapan, Magister Terapan, hingga Doktor Terapan.
Namun sesungguhnya, yang paling menarik bukanlah pertumbuhan jumlahnya. Yang lebih menarik adalah perjalanan transformasinya.
Perjalanan yang berlangsung secara bertahap, tetapi konsisten. Perjalanan yang menunjukkan bahwa, institusi besar tidak lahir dalam semalam.
Ia dibangun oleh generasi demi generasi.
PLO: Pegawai Lali Omah
Salah satu cerita yang menarik dari perjalanan awal PENS adalah budaya kerjanya. Generasi awal PENS mengenal istilah yang sering disampaikan dengan nada bercanda, tetapi sesungguhnya penuh penghormatan: PLO, Pegawai Lali Omah.
Dalam bahasa Jawa, lali omah berarti “lupa rumah”. Tentu bukan dalam arti sebenarnya.
Istilah tersebut menggambarkan dedikasi luar biasa para pendiri dan generasi awal PENS yang begitu fokus membangun institusi hingga sering kali waktu, tenaga, dan pikirannya tercurah untuk kampus.
Mereka adalah dosen-dosen muda yang ditempa melalui kerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency), baik di Indonesia maupun di Jepang.
Mereka bukan sekadar mengajar. Mereka membangun laboratorium. Mereka membangun sistem. Mereka membangun budaya. Mereka membangun jejaring. Dan yang paling penting, mereka membangun masa depan.
Gedung bisa dibangun dengan anggaran. Peralatan bisa dibeli dengan proyek. Tetapi budaya hanya bisa dibangun melalui keteladanan.
Dan salah satu warisan terbesar generasi awal PENS adalah semangat PLO: Pegawai Lali Omah.
Budaya yang mengajarkan bahwa, membangun institusi besar membutuhkan orang-orang yang bersedia memberi lebih banyak daripada yang diminta.
Dekade Pertama: Membangun Pondasi
Tahun-tahun awal adalah masa membangun pondasi. Laboratorium dibangun. Kurikulum diperkuat. Kerja sama internasional dirintis. Budaya kualitas ditanamkan.
Pada fase ini, yang dibangun bukan sekadar kampus, tetapi karakter institusi. Karakter yang kemudian menjadi DNA PENS hingga hari ini.
Dekade Kedua: Sarjana Terapan
Memasuki awal tahun 2000-an, PENS mulai menunjukkan keberaniannya melakukan lompatan.
Ketika banyak politeknik masih identik dengan Diploma III, PENS membuka Program Diploma IV atau Sarjana Terapan.
Hari ini mungkin terdengar biasa. Namun pada masa itu, langkah tersebut merupakan terobosan besar.
PENS seperti sedang mengirim pesan bahwa, pendidikan vokasi harus terus naik kelas tanpa kehilangan akar praktiknya. Langkah ini menjadi salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan vokasi di Indonesia.
Dekade Ketiga: Magister Terapan
Sekitar satu dekade berikutnya, tepatnya tahun 2012, PENS kembali mencatat sejarah. Program Magister Terapan lahir. Ini bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan.
Ini adalah bukti bahwa, pendidikan vokasi juga mampu menghasilkan penelitian terapan, inovasi, dan solusi yang berdampak bagi industri dan masyarakat.
PENS menjadi salah satu pelopor pendidikan pascasarjana di lingkungan pendidikan vokasi Indonesia.
Dekade Keempat: Doktor Terapan
Transformasi itu terus berlanjut. Tahun 2024 menjadi tonggak berikutnya. Program Doktor Terapan hadir melengkapi perjalanan panjang pendidikan vokasi di PENS. Dari Diploma menuju Doktor. Dari pendidikan vokasi dasar hingga pendidikan vokasi tertinggi.
Sebuah capaian yang mungkin sulit dibayangkan ketika kampus ini pertama kali berdiri dengan dua program studi dan sekitar 120 mahasiswa.
Dari 2 Menjadi 29
Jika dilihat dari angka, transformasi PENS sangat menarik. Dari 2 program studi menjadi 29 program studi. Dari 120 mahasiswa menjadi hampir 3.000 mahasiswa baru setiap tahun. Dari D3 menuju Doktor Terapan. Namun angka-angka itu hanyalah akibat.
Penyebab utamanya adalah budaya. Budaya kerja. Budaya kualitas. Budaya inovasi. Budaya kolaborasi. Budaya untuk terus bertumbuh dan tidak cepat berpuas diri.
Karena sesungguhnya institusi tidak dibesarkan oleh gedungnya. Institusi dibesarkan oleh manusianya.
Bangga Menjadi Bagian dari PENS
Ada satu alasan lagi mengapa Milad ke-38 ini terasa begitu istimewa bagi saya.
Saya bangga menjadi bagian dari perjalanan ini.
Bangga sebagai alumni PENS. Bangga pernah belajar, bertumbuh, dan ditempa oleh almamater ini.
Dan lebih dari itu, saya juga bersyukur diberi kesempatan untuk kembali mengabdi sebagai dosen.
Sebuah perjalanan yang mungkin tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali menjadi mahasiswa.
Dulu saya datang ke PENS untuk belajar. Hari ini saya diberi amanah untuk ikut membesarkan PENS.
Dulu saya menerima ilmu dari para dosen dan senior. Hari ini saya memiliki kesempatan untuk meneruskan estafet itu kepada generasi berikutnya.
Bagi saya, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah bentuk rasa terima kasih kepada almamater.
Karena salah satu jejak terpenting dalam perjalanan hidup saya adalah PENS.
Di kampus inilah saya belajar teknologi. Di kampus ini pula saya belajar organisasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan pengabdian.
Bahkan perjalanan pendidikan saya dari D3, Sarjana, Magister, hingga Doktor juga menjadi bagian dari perjalanan panjang bersama PENS.
Karena itu, ketika hari ini saya diberi amanah untuk ikut membesarkan institusi, rasa yang muncul bukan hanya tanggung jawab.
Tetapi juga rasa syukur.Syukur karena pernah menjadi mahasiswa PENS. Syukur karena menjadi alumni PENS. Dan syukur karena masih diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan besar PENS menuju masa depan.
Menatap 38 Tahun Berikutnya
Milad ke-38 bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Tetapi juga tentang menyiapkan masa depan.
Karena tantangan berikutnya jauh lebih besar.
Artificial Intelligence. Semikonduktor. Robotika.
Internet of Things. Data Center. Kemandirian teknologi bangsa. Dan berbagai teknologi baru yang akan membentuk masa depan dunia.
Jika 38 tahun pertama adalah perjalanan dari dua program studi menjadi 29 program studi, dari 120 mahasiswa menjadi ribuan mahasiswa, serta dari D3 menuju Doktor Terapan, maka 38 tahun berikutnya adalah perjalanan menuju kampus vokasi kelas dunia yang semakin berdampak bagi Indonesia dan dunia.
Selamat Milad ke-38 PENS
Terima kasih kepada para pendiri yang menanam benih. Terima kasih kepada seluruh generasi yang merawat dan membesarkannya. Terima kasih kepada para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, mitra industri, dan alumni yang terus menjaga api perjuangan ini.
Karena sesungguhnya sejarah besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah.
Dan 38 tahun yang lalu, langkah kecil itu dimulai dari dua program studi sederhana: Elektronika dan Telekomunikasi.
Saya datang ke PENS sebagai mahasiswa. Saya tumbuh bersama PENS sebagai alumni. Dan hari ini saya bersyukur diberi amanah untuk ikut membesarkan PENS.
Happy Milad ke-38 PENS.
Dari D3 hingga Doktor. Dari 2 menjadi 29 prodi. Dari 120 menuju ribuan mahasiswa per angkatan. Terus Bertumbuh, Terus Berkarya, dan Terus Menginspirasi Indonesia.
*Penulis adalah Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Alumnus ITS93 Teknik Elektro, dan Penggagas Ekowisata Mangrove bersama masyarakat Gunung Anyar Tambak, Surabaya pada tahun 2010.



