telusur.co.id - Majunya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2024, berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, secara tidak langsung sangat menguntungkan Ganjar Pranowo. Karena, saat yang sama menunjukkan bahwa Anies Baswedan mungkin terganjal sebagai capres-cawapres, sebab elite penentu di partai mengunci kandidasi.
"Artinya boleh jadi elektabilitas (Anies) yang tinggi hanya akan menjadi 'hiasan' berita media, cukup menghibur di awal saja," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago, dalam keterangannya, Rabu (24/8/22).
Menurut dia, elektabilitas yang moncer di awal tidak menjamin serta merta bisa maju sebagai kandidasi Pilpres 2024. Bagaimana cara menganjal kemenangan Anies dan bagaimana memuluskan jalan Ganjar menjadi presiden? kausalitas kunci penentunya terkait “maju” atau “tidak” Prabowo sebagai capres nantinya.
Pangi menganalisa, Prabowo harus maju sebagai kandidasi dalam rangka memecah suara, kalah atau menang tak ada beban. Sebab, hasil diujung dalam politik selalu ada deal-deal politik di belakang layar, karena cukup berhasil menganjal Anies sebagai calon potensial capres 2024. "Soal apa deal-deal politiknya sebagai ucapan terima kasih, tentu saja kita terlalu jauh untuk membahasnya lebih detail," kata Pangi.
Selain majunya Prabowo sebagai memastikan elektabilitas Gerindra tertolong dengan majunya Prabowo.
"Karena bukan apa-apa, pengaruh Prabowo effect dianggap lebih kuat ketimbang Gerindra effect, dari bentangan emperis yang sudah-sudah, Prabowo pernah merasakan keberkahan “cottail effect” majunya beliau sebagai kandidasi capres 2019, signifikan terhadap peningkatan perolehan suara Gerindra," ungkapnya.
Bagi Pangi, ini soal eksistensi dan masa depan Gerindra, apalagi Pemilu serentak (concurrent) antara memilih partai dan memilih presiden.
Majunya Prabowo juga makin membatasi kesempatan Anies diusung parpol sebagai capres. Apalagi kuota 20 persen parpol koalisi sebagai syarat mengajukan capres-cawapres, tentu ini menyulitkan Anies yang bukan kader parpol.
"Dengan demikian, majunya Prabowo sebagai Capres tentu saja semakin menutup ruang Anies untuk mendapatkan “boarding pass” dari partai politik. Kalaupun nantinya Prabowo kalah atau menang tetap partai Gerindra yang menang banyak," tutupnya.[Fhr]



