telusur.co.id - Rusia menegaskan akan terus memperkuat kemampuan pertahanannya di kawasan Arktik sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan yang berkaitan dengan situasi di sekitar Greenland.
Dalam konferensi pers di Moskow, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyatakan bahwa Moskow mendukung posisi China dan menilai tidak dapat diterima jika aktivitas Rusia dan China dijadikan alasan untuk meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
“Negara kami akan terus dengan tegas mempertahankan posisinya di wilayah tersebut. Kami akan melanjutkan kebijakan kami untuk memperkuat kedaulatan nasional di zona Arktik, terutama kemampuan pertahanan dan infrastruktur Jalur Laut Utara kami sendiri,” ujar Zakharova.
Zakharova menyoroti langkah Amerika Serikat yang menetapkan Greenland sebagai “wilayah kepentingan AS” dengan narasi ancaman Rusia. Ia menilai peningkatan ketegangan di Arktik merupakan konsekuensi langsung dari tindakan NATO, yang menurutnya telah mengubah kawasan tersebut menjadi arena persaingan geopolitik dan siap menggunakan cara militer untuk memperkuat posisinya.
“Mereka sendiri yang pertama kali menciptakan gagasan bahwa ada beberapa yang disebut agresor, dan kemudian mereka sendiri yang menciptakan gagasan bahwa mereka siap melindungi seseorang dari agresor yang dituduhkan ini,” tambahnya.
Zakharova memperingatkan Eropa bahwa setiap upaya untuk mengabaikan kepentingan Rusia di Arktik, khususnya dalam bidang keamanan, akan membawa konsekuensi serius.
Pernyataan Rusia muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa Washington membutuhkan kendali atas Greenland untuk sistem pertahanan udara dan rudal Golden Dome yang direncanakannya.
Greenland sendiri merupakan wilayah otonom Denmark. Sejak 1951, Washington dan Kopenhagen telah menandatangani perjanjian pertahanan yang mewajibkan AS untuk melindungi pulau tersebut dari kemungkinan agresi, sejalan dengan komitmen aliansi NATO. [ham]




