Iran Pastikan Persiapan Negosiasi dengan AS Berjalan Lancar di Tengah Ketegangan Teluk - Telusur

Iran Pastikan Persiapan Negosiasi dengan AS Berjalan Lancar di Tengah Ketegangan Teluk

kapal induk USS Abraham Lincoln. foto AP

telusur.co.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Teluk Persia terus meningkat, namun pejabat keamanan nasional tertinggi Iran menyatakan persiapan negosiasi berjalan lancar. Ali Larijani, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menegaskan melalui unggahan di media sosial pada Sabtu, bahwa “tidak seperti suasana perang media yang artifisial, pembentukan struktur untuk negosiasi sedang berjalan lancar.” Larijani tidak merinci lebih lanjut kerangka kerja yang dimaksud.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran lebih memilih mencapai kesepakatan daripada menghadapi aksi militer. “Mereka sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita dapat melakukan sesuatu; jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi… kita memiliki armada besar yang menuju ke sana,” ujarnya kepada Fox News.

Ketegangan meningkat setelah ancaman berulang Trump untuk menyerang Iran terkait penindakan pemerintah terhadap protes anti-pemerintah dan upaya membatasi program nuklir Iran. Pemerintahan AS telah mengerahkan armada angkatan laut, dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, ke wilayah Teluk, meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan konfrontasi militer.

Pemerintah Iran menegaskan kesiapan untuk bernegosiasi dengan Washington, namun dengan syarat Trump menghentikan ancaman serangan militer. Awal pekan ini, Trump menyatakan kapal-kapal AS yang dikirim ke Iran siap menggunakan “kekerasan, jika perlu”, jika Iran menolak duduk bersama membahas program nuklirnya.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga memperingatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terkait rencana latihan angkatan laut dua hari di Selat Hormuz, jalur maritim vital bagi perdagangan global. “Setiap perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS, mitra regional, atau kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, eskalasi, dan destabilisasi,” kata CENTCOM dalam pernyataan resminya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi hal itu melalui media sosial, menilai militer AS berusaha “mendikte bagaimana Angkatan Bersenjata kami yang perkasa harus melakukan latihan menembak di wilayah mereka sendiri.” Ia menyoroti kontradiksi AS, yang menyebut IRGC sebagai organisasi “teroris” pada 2019, namun menuntut profesionalisme dari militer yang sama saat berlatih.

Araghchi menekankan bahwa kehadiran pasukan asing di wilayah Iran justru memicu eskalasi, bukan de-eskalasi, dan dapat memperburuk situasi di Teluk. [ham]


Tinggalkan Komentar