telusur.co.id - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membantah keras tudingan bahwa Teheran telah meninggalkan Lebanon dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan di Islamabad.
Dalam konferensi pers terbarunya, Baqaei menegaskan bahwa Iran tetap konsisten mendukung perlawanan rakyat Lebanon. Ia menyebut dukungan tersebut bukan hanya retorika, tetapi juga menjadi bagian dari agenda yang diperjuangkan dalam meja perundingan.
“Iran selalu memuji dan mendukung perlawanan sah rakyat Lebanon. Pernyataan bahwa kami meninggalkan mereka sama sekali tidak benar,” tegasnya.
Baqaei juga mengungkapkan bahwa isu gencatan senjata di Lebanon menjadi salah satu poin penting dalam negosiasi di Islamabad. Meski terdapat perubahan sikap dari pihak lain, hal itu tidak berarti Iran mundur dari komitmennya.
Lebih jauh, ia menyoroti peran Pakistan dalam perundingan tersebut yang secara tegas memasukkan gencatan senjata sebagai bagian dari kesepakatan yang harus dijalankan tanpa alasan apa pun untuk mengingkarinya.
Dalam pernyataan yang lebih tajam, Baqaei menanggapi anggapan bahwa AS dan Israel memainkan peran “polisi baik” dan “polisi jahat”. Ia menolak narasi tersebut mentah-mentah.
“Mereka bukan polisi. Keduanya adalah penjahat,” ujarnya lugas.
Tak hanya itu, Baqaei juga menyinggung isu program nuklir Iran yang kerap menjadi sorotan dunia. Menurutnya, perhatian internasional terhadap program tersebut tidak lepas dari operasi media yang menyesatkan dan penuh manipulasi.



