ITS Bangun Instalasi Air Bersih di Pidie Jaya untuk Bantu Warga Terdampak Bencana - Telusur

ITS Bangun Instalasi Air Bersih di Pidie Jaya untuk Bantu Warga Terdampak Bencana

nstitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) enghadirkan instalasi air bersih inovatif bagi masyarakat terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan menghadirkan instalasi air bersih inovatif bagi masyarakat terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Instalasi tersebut diresmikan di Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah, Kabupaten Pidie Jaya.

Proyek ini dihadirkan sebagai solusi atas kesulitan warga setempat dalam memperoleh air bersih setelah bencana melanda wilayah tersebut. Keberadaan instalasi ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya bagi para santri dan warga sekitar pesantren.

Wakil Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan (PILB) ITS, Dr. Catur Arif Prastyanto, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi pembangunan instalasi tersebut merupakan hasil diskusi antara Tim Tanggap Bencana ITS dan Universitas Syiah Kuala (USK).

“Penentuan lokasi di Kabupaten Pidie Jaya tersebut mempertimbangkan kedekatan dengan sumber air baku serta kemudahan operasional dan perawatan,” terang dosen Departemen Teknik Sipil tersebut.

Menurut Catur, teknologi instalasi air bersih ini merupakan hasil inovasi dua pakar dari Departemen Teknik Lingkungan ITS, yakni Prof. Arseto Yekti Bagastyo, S.T., M.T., M.Phil., Ph.D. dan Ervin Nurhayati, S.T., M.T., Ph.D. Sistem yang dikembangkan mampu mengolah air sungai yang keruh menjadi air bersih dengan kapasitas produksi mencapai 2.000 liter per jam.

Alat tersebut dirancang untuk dapat beroperasi secara kontinu. Namun, dalam kondisi ideal, sistem bekerja selama delapan hingga sepuluh jam per hari, tergantung pada ketersediaan air baku dan kebutuhan distribusi air di lapangan.

Catur menjelaskan bahwa efisiensi alat ini terletak pada metode pemurnian yang memanfaatkan prinsip elektrokoagulasi. Metode tersebut digunakan untuk menurunkan tingkat kekeruhan air tanpa menggunakan bahan kimia. Setelah itu, proses pemurnian dilanjutkan melalui penyaringan menggunakan membran.

“Karena tidak menggunakan bahan kimia untuk menurunkan kekeruhan yang tinggi, sehingga biaya operasionalnya bisa menjadi sangat murah,” ungkapnya.

Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan dan implementasinya. Melalui Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan di bawah Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, tim peneliti bekerja sama dengan berbagai organisasi alumni serta mitra industri.

Beberapa pihak yang terlibat di antaranya Alumni Teknik Sipil ITS (ALSITS), Ikatan Alumni (IKA) Teknik Lingkungan ITS, serta perusahaan konstruksi seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Selaras Alam Varia Energi.

Selain itu, dukungan juga datang dari berbagai tokoh yang terlibat dalam pengembangan proyek ini, termasuk Kepala PILB ITS Prof. I D.A.A. Warmadewanthi, S.T., M.T., Ph.D. dan Sekretaris Umum ALSITS Lucia Karina. Jaringan alumni ITS berperan penting dalam membantu menentukan lokasi yang paling membutuhkan akses air bersih di daerah terdampak bencana.

Agar kebermanfaatan instalasi ini dapat berkelanjutan, para santri di pesantren tersebut juga mendapatkan pelatihan langsung terkait pengoperasian dan perawatan alat. Sistem operasional instalasi ini relatif sederhana, hanya memerlukan pembersihan lumpur serta penggantian elektroda secara berkala.

Dengan kemudahan tersebut, pemeliharaan instalasi tidak membutuhkan keahlian teknis khusus sehingga dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan masyarakat di Pidie Jaya melalui ketersediaan air bersih yang lebih terjamin. Ke depan, tim pengembang juga berencana melakukan pengembangan lebih lanjut, khususnya pada sistem konversi energi kelistrikan agar operasional alat menjadi lebih efisien.

“Harapan kami, alat ini dapat diproduksi sepenuhnya di dalam negeri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat,” tandas Catur penuh harap.

Inisiatif kemanusiaan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta tujuan ke-3 mengenai Kehidupan Sehat dan Sejahtera.


Tinggalkan Komentar