telusur.co.id - Anggota DPR RI Asep Wahyuwijaya menegaskan bahwa regenerasi petani menjadi salah satu agenda paling mendesak dalam menjaga masa depan ketahanan pangan nasional. Menurutnya, tanpa hadirnya generasi baru di sektor pertanian, keberlanjutan pangan Indonesia akan menghadapi ancaman serius.
Pernyataan itu disampaikan dalam ajang Elang Agro Expo yang digelar oleh PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/7/2026).
Dalam paparannya, Asep menyoroti kondisi demografi petani Indonesia yang didominasi usia tua. Ia menyebut hampir 80 persen petani saat ini berusia di atas 40 tahun, sementara minat generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian masih rendah.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia tercatat mencapai 25,12 juta. Namun, petani milenial berusia 19–39 tahun hanya sekitar 6,18 juta orang, atau 21,93 persen dari total keseluruhan.
“Ketika anak muda menjauh dari pertanian, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Anak muda bersikap rasional. Mereka melihat apakah sektor ini mampu memberikan penghidupan yang layak, akses modal, akses pasar, dan kepastian usaha,” ujar Asep.
Politisi yang akrab disapa Kang AW itu menegaskan, regenerasi petani tidak cukup dipahami sekadar pergantian generasi dari petani tua ke petani muda. Lebih dari itu, regenerasi harus menjadi momentum untuk membawa pertanian naik kelas melalui pendekatan agribisnis modern.
Menurutnya, ruang pertanian masa depan harus mampu menciptakan ekosistem yang lebih luas, mulai dari pengolahan hasil, pemasaran digital, koperasi, hingga integrasi teknologi.
“Regenerasi petani harus menghadirkan generasi baru yang membawa perubahan. Pertanian tidak lagi hanya soal menanam dan memanen, tetapi juga bisnis, inovasi, dan nilai tambah,” tegasnya.
Asep juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam menarik minat anak muda. Namun ia mengingatkan bahwa digitalisasi tidak boleh berhenti pada promosi media sosial semata, melainkan harus menyentuh seluruh rantai nilai pertanian — dari produksi, distribusi, hingga manajemen usaha.
Di sisi lain, ia menilai Kabupaten Bogor memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium regenerasi petani nasional. Dukungan lahan produktif, keberadaan kelompok tani, komoditas unggulan, serta kedekatan dengan pasar besar Jabodetabek dinilai menjadi modal strategis.
Selain itu, menurutnya, sektor pertanian Bogor juga dapat diintegrasikan dengan pariwisata, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Ia pun mengapresiasi Elang Agro Expo sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan petani, anak muda, pelaku usaha, pemerintah, dan pasar.
“Ini bukan sekadar pameran produk. Ini momentum untuk mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern, kreatif, dan bernilai ekonomi tinggi,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Asep menegaskan bahwa regenerasi petani harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, koperasi, perguruan tinggi, dan komunitas.
“Anak muda tidak cukup hanya diajak kembali ke sawah. Pertanianlah yang harus dibuat lebih siap menerima mereka — sebagai ruang inovasi, ruang usaha, ruang teknologi, dan ruang masa depan,” pungkasnya.



