Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Iran Disebut Kirim Ahli Rudal ke Houthi - Telusur

Ketegangan Timur Tengah Meningkat, Iran Disebut Kirim Ahli Rudal ke Houthi

Seorang pengikut Houthi memperhatikan demonstrasi pro-Iran, saat konflik AS-Israel dengan Iran berlanjut, di Sanaa, Yaman, 6 April 2026. REUTERS

telusur.co.id - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah laporan Reuters menyebut Iran menerbangkan personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), penasihat militer, serta peralatan yang berkaitan dengan rudal dan drone ke wilayah yang dikuasai kelompok Houthi di Yaman.

Mengutip empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut, termasuk dua sumber dari Iran, Menteri Informasi Yaman, serta seorang analis keamanan regional, pengiriman itu dilakukan melalui penerbangan Mahan Air dari Teheran pada 13 Juli.

Dua sumber Iran yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim menyebut antara 10 hingga 21 personel IRGC, termasuk sejumlah komandan senior, berada di dalam pesawat tersebut.

Awalnya, penerbangan dijadwalkan mendarat di Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi. Namun, setelah bandara Sanaa diserang oleh pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, pesawat dialihkan ke Kota Hodeidah di pesisir Laut Merah.

Salah satu sumber mengatakan para komandan IRGC dikirim untuk memberikan pelatihan mengenai sistem rudal terbaru sekaligus mendukung operasi militer Houthi. Sumber itu juga mengklaim Iran membawa emas dalam penerbangan tersebut sebagai pendanaan bagi aktivitas kelompok tersebut.

Jika informasi tersebut akurat, langkah itu dinilai memperlihatkan upaya Teheran memperkuat kemampuan militer Houthi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Merah, salah satu jalur perdagangan dan distribusi energi paling strategis di dunia.

Iran dan Houthi Bantah Tuduhan

Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. Selama ini Teheran berulang kali membantah memasok sistem rudal kepada Houthi maupun mengendalikan operasi kelompok itu.

Sementara itu, pihak Houthi juga belum merespons permintaan komentar Reuters. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, kelompok tersebut menolak disebut sebagai proksi Iran dan menegaskan bahwa persenjataan mereka dikembangkan secara mandiri.

Ketegangan Meningkat Pascaserangan Bandara Sanaa

Beberapa hari setelah penerbangan tersebut tiba, Reuters melaporkan bahwa Iran meminta Houthi bersiap menutup jalur distribusi minyak di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran.

Tak lama berselang, Houthi mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi sebagai respons atas serangan ke Bandara Sanaa pada 13 Juli yang mereka tuduhkan dilakukan oleh Riyadh.

Langkah tersebut mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar empat tahun antara Arab Saudi dan Houthi. Situasi semakin memanas setelah kelompok itu mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah.

Pemerintah Yaman Klaim Ada Bukti Intelijen

Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Iryani, yang mewakili pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, mengatakan pihaknya memiliki informasi intelijen mengenai pengiriman personel IRGC tersebut.

Menurutnya, misi para personel Iran adalah meningkatkan kemampuan tempur Houthi sehingga mampu mengancam keamanan pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Analis keamanan regional Mzahem Alsaloum juga mengaku memperoleh informasi serupa. Ia menyebut sebagian muatan pesawat berisi komponen rudal jarak pendek, rudal jarak menengah, dan drone yang memiliki karakteristik serupa dengan senjata yang sebelumnya digunakan dalam serangan terhadap Arab Saudi maupun Uni Emirat Arab.

Iran Sebut Penerbangan Bersifat Kemanusiaan

Di sisi lain, Iran memberikan penjelasan berbeda mengenai penerbangan tersebut. Dalam konferensi pers pada 20 Juli, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan penerbangan Mahan Air ke Yaman bertujuan memulangkan delegasi Houthi yang sebelumnya menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta membawa pulang warga Yaman yang telah menjalani perawatan medis di Iran.

Menurut keterangan itu, sekitar 200 penumpang, termasuk pejabat Houthi, perempuan, dan anak-anak, diterbangkan ke Iran pada 3 Juli. Pesawat kemudian kembali ke Yaman pada 13 Juli. Namun, berdasarkan sumber Reuters, penerbangan yang sama juga mengangkut komandan dan penasihat IRGC.

Hingga kini belum ada bukti independen yang dapat memverifikasi secara menyeluruh seluruh klaim dari masing-masing pihak. Namun, laporan tersebut menambah daftar indikasi meningkatnya rivalitas geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan serta keamanan jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Sumber: Reuters.


Tinggalkan Komentar