telusur.co.id -Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa pada masa gencatan senjata selama tiga bulan pihaknya telah mendongkrak kemampuan militer nasional secara signifikan dengan melakukan pembenahan skala besar pada penguatan sektor pertahanan udara serta peningkatan kecepatan dan tingkat akurasi produksi rudal.
Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengungkapkan bahwa militer telah memasukkan serangkaian alutsista baru ke dalam unit operasional tempur, sekaligus memulihkan berbagai sistem pertahanan yang sebelumnya sempat mengalami perbaikan.
"Kami telah berupaya memanfaatkan peluang dengan sebaik-baiknya. Periode gencatan senjata selama tiga bulan merupakan kesempatan yang baik untuk perencanaan pertahanan kami, khususnya di bidang pertahanan udara," kata Akraminia, mengutip Tasnim, pada Senin (27/7/2026).
Langkah serupa dikonfirmasi oleh Juru Bicaranya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Hossein Mohebbi. Dalam wawancara khusus dengan kantor berita Tasnim, Mohebbi menegaskan bahwa Iran menggunakan periode tenang ini untuk melipatgandakan kesiapsiagaan tempur.
“Tidak seperti Amerika Serikat, kami memanfaatkan gencatan senjata. Kami meningkatkan kapasitas pertahanan kami. Kami meningkatkan kecepatan produksi rudal, dan akurasi rudal juga meningkat,” katanya.
Ia juga menyindir pihak AS yang dinilai gagal memanfaatkan jeda pertempuran tersebut untuk memulihkan krisis energi dalam negerinya. Menurut Mohebbi, cadangan minyak AS tidak mampu menutupi defisit nasional dan justru mengalami kemerosotan yang kian parah.
“Lihatlah cadangan minyak AS, mereka tidak mampu menutupi defisit minyak mereka, dan defisit itu malah semakin meningkat,” kata Hossein.
Di sisi lain, Akraminia menilai operasi militer AS terhadap Iran telah gagal mencapai sasaran utamanya. Ambisi Washington untuk membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, mengikis kekuatan pertahanan, serta meruntuhkan mentalitas tempur pasukan Iran terbukti tidak terwujud.
Ia menegaskan bahwa militer Iran kini telah menyiapkan skenario dan strategi baru untuk menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan, seraya memperingatkan bahwa berlanjutnya agresi AS hanya akan memperluas cakupan wilayah konflik di kawasan Timur Tengah.
Laporan: Dhanis Iswara.



