Media Asing Sebut Korban Meninggal Akibat Covid-19 Di Indonesia Lebih dari 2.200 Orang - Telusur

Media Asing Sebut Korban Meninggal Akibat Covid-19 Di Indonesia Lebih dari 2.200 Orang


telusur.co.id - Berdasarkan laporan media asing, Reuters menyebutkan bahwa lebih dari 2.200 orang Indonesia meninggal dunia dengan gejala akut Covid-19. Namun, data itu tak dicatatkan sebagai korban penyakit tersebut. 

Data itu diperoleh Reuters berdasarkan tinjauan di 16 dari 34 provinsi. Per Senin (27/4/20), Kementerian Kesehatan melaporkan, angka kematian akibat Covid-19 secara nasional di 34 provisi mencapai 765. 

Indonesia ini termasuk yang terendah tingkat pengujian virus corona di dunia. 

Data terbaru diungkapkan Reuters, dari 16 provinsi menunjukkan terdapat 2.212 kematian pasien di bawah pengawasan atau PDP yang memiliki gejala akut virus corona. 

Kementerian kesehatan menggunakan akronim PDP untuk mengklasifikasikan pasien-pasien ini ketika tidak ada penjelasan klinis lain untuk gejalanya.

Data didapatkan dari provinsi setiap hari atau setiap minggu yang dipasok oleh rumah sakit, klinik, dan petugas pemakaman. 

Data ini diperoleh Reuters dengan memeriksa situs web, berbicara dengan pejabat provinsi, dan meninjau laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. 

Angka 2.212 adalah tambahan dari 693 orang yang dites positif Covid-19 di provinsi-provinsi tersebut dan secara resmi dicatat sebagai korban Corona. Adapun populasi 16 provinsi tersebut mencakup lebih dari tiga perempat dari total 260 juta penduduk Indonesia.

Anggota gugus tugas Covid-19, Wiku Adisasmito tidak membantah temuan Reuters, namun menolak mengomentari ihwal angka kematian. 

Wiku mengatakan banyak dari 19.897 orang yang diduga penderita virus corona di Indonesia belum diuji karena antrian panjang di laboratorium. Sayangnya, beberapa orang telah meninggal sebelum sampel mereka dianalisis. 

"Jika mereka memiliki ribuan atau ratusan sampel yang perlu mereka uji, mana yang akan mereka prioritaskan? Mereka akan memberikan prioritas kepada orang-orang yang masih hidup, ” ujar dia.


Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Pandu Riono juga mengungkapkan keyakinannya bahwa banyak dari PDP yang meninggal disebabkan oleh Covid-19.

"Saya percaya sebagian besar kematian PDP disebabkan oleh Covid-19,” kata Pandu. 

Laporan Reuters sebelumnya, data pemakaman di ibu kota Jakarta pada Maret naik 40% dibandingkan jumlah rata-rata per bulan pada tahun lalu. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa virus corona adalah satu-satunya penjelasan yang memungkinkan kenapa angka kematian meningkat. 

Berdasarkan data Jakarta Tanggap Covid-19, total pemakaman yang menggunakan protap Covid-19 di Ibu Kota hingga 24 April telah mencapai 1.666. 

Pemerintah sebelumnya dituduh kurang transparan dalam menangani pandemi ini. Namun, pemerintah memastikan telah mengambil langkah-langkah yang tepat. 

Presiden Jokowi mengatakan bulan lalu bahwa beberapa informasi telah dirahasiakan dari publik untuk mencegah kepanikan. Namun pekan lalu, dia meminta para menterinya untuk melaporkan data Covid-19 dengan jujur. 

Pemerintah mengumumkan inisiatif transparansi baru penanganan corona sejak dua minggu lalu, tetapi situs web baru yang dijanjikan dengan semua data belum diluncurkan.

Ketua Umum PB IDI Daeng Faqih mendesak pemerintah untuk mengungkap jumlah kematian pasien yang diduga COVID-19, tetapi tidak diuji. 

Kantor perwakilan WHO di Indonesia juga mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa kematian tersangka pengidap virus corona harus diungkapkan. Adisasmito mengatakan pemerintah tidak menyembunyikan data. Namun dia tidak mengetahui bahwa WHO telah menyerukan dugaan statistik kematian COVID-19 untuk dipublikasikan.[Fhr]


Tinggalkan Komentar