telusur.co.id - Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia menegaskan kesiapan penuh Angkatan Bersenjata Iran untuk menghadapi segala bentuk ancaman, seraya memperingatkan Amerika Serikat dan rezim Zionis agar tidak kembali melakukan provokasi.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (10/4/2026), markas tersebut menyebut bahwa pengalaman pelanggaran komitmen di masa lalu membuat Iran tetap berada dalam kondisi siaga tinggi. Pasukan disebut siap bertindak kapan saja, sebagaimana ditunjukkan dalam konflik terbaru dan periode 40 hari konfrontasi asimetris.
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa para pemimpin AS dan Israel tidak memiliki legitimasi untuk mengancam Iran maupun front perlawanan. Secara khusus, nama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu disebut sebagai pihak yang seharusnya “belajar dari kekalahan memalukan” dalam konflik sebelumnya.
Dilansir kantor berita Tasnim, Militer Iran menekankan bahwa mereka tidak akan membiarkan serangan terhadap negara tersebut tanpa balasan. Selain itu, mereka juga menyatakan akan meningkatkan kendali atas Selat Hormuz sebagai bagian dari hak strategis Iran.
Dalam peringatan lebih lanjut, Iran menegaskan bahwa jika serangan terhadap Hezbollah dan rakyat Lebanon terus berlanjut—terutama di wilayah Dahieh—maka respons yang diberikan akan bersifat “menghancurkan dan menyakitkan.”
Ketegangan kawasan sendiri meningkat sejak konflik besar antara Iran dengan AS dan Israel, yang dipicu oleh serangan terhadap tokoh-tokoh penting Iran. Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap target-target militer di kawasan, yang diklaim menunjukkan kapasitas respons yang signifikan.
Di tengah situasi tersebut, Pakistan berperan sebagai mediator yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu, dengan rencana pembicaraan di Islamabad.
Iran juga telah mengajukan proposal sepuluh poin sebagai dasar negosiasi, mencakup penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta penguatan kontrol atas Selat Hormuz.
Meski membuka ruang diplomasi, Iran menegaskan bahwa negosiasi bukanlah akhir konflik, melainkan kelanjutan dari persaingan dalam bentuk lain, dengan sikap waspada tinggi terhadap komitmen pihak lawan.



