telusur.co.id - Dosen Pasca Sarjana Cultural Studies FIB Universitas Indonesia (UI) Lily Tjahyandari mengataakan, saat ini terjadi krisis identitas di bangsa ini. Hal itu terbukti dengan menguatnya politik identitas belakangan ini, terutama menjelang event pemilu.
"Sekarang kan sudah ada krisis mengarah ke sana, yaitu krisis identitas," ujar Lily dalam diskusi Refleksi Akhir Tahun bertajuk "Quo Vadis Arah Pembangunan Nasional, Evaluasi dan Proyeksi Kebijakan Pembangunan Nasional Dalam Multiperspektif, di June's Resto & Bar, Jakarta Pusat, Sabtu (17/12/22).
Menurutnya, menguatnya politik identitas yang menguat belakangan ini mesti dihentikan jika Indonesia ingin melakukan pembangunan yang terus berkelanjutan.
"Kalau perlu kita rem. Caranya gimana? Tidak kita beri ruang, supaya bisa dikontrol, supaya ruang kebersamaan itu bisa terbangun," ujarnya.
Salah satu cara untuk menghentikan politik identitas ini, kata dia, adalah adanya gerakan revolusi mental yang dibawa oleh pemerintah.
Menurut Lily, memandang revolusi mental ini sepatutnya semakin diperluas, tidak hanya dilakukan dalam upaya meningkatkan pendidikan formal masyarakat, tetapi juga informal.
"Yang masih perlu kita pantau sama-sama, adalah revolusi mental di bidang sosial media (sosmed)," terangnya.
Lily menilai, Sosmed yang terus berkembang hingga hari ini sudah semakin jauh dari maksud dan tujuannya diciptakan, yaitu untuk mengembangkan informasi.
"Masih banyak orang yang kepikirannya masih sosmed yang bukan mendapat informasi yang baik, tapi jadi bahan untuk berantem," tuturnya.
Oleh karena itu, kata dia, hal ini yang perlu dibuat terobosan haluan, dengan memastikan bagaimana polemik itu bisa dikelola atau bahkan dihentikan.
"Polemik itu ujungnya sampai mana? Jangan sampai jadi berat. Koridor-koridor itu yang perlu disadarkan," ungkapnya.
"Jadi artinya, pendidikan sosmed ini akan membuat kita makin kuat," pungkas Lily. [Tp]



