PARTAI POLITIK ISLAM MASYUMI

Oleh : Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

HARI INI 74 tahun yang lalu, setelah berdiskusi selama dua hari, Kongres Umat Islam Indonesia di Gedung Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, akhirnya bersepakat membentuk Partai Politik Islam Masyumi yang diikrarkan sebagai satu-satunya wadah perjuangan politik umat Islam Indonesia.

Mengenai nama Masyumi, juru bicara partai yang membubarkan diri pada September 1960,  Anwar Harjono, menuturkan bahwa pada saat Kongres berlangsung terdapat dua usul nama partai. 

Satu pihak mengusulkan nama “Masyumi” karena sudah popular; kalangan lain merasa tidak nyaman dengan nama itu, lantaran didirikan di zaman Jepang dan karena itu berbau Jepang. Kalangan ini mengusulkan nama “Partai Rakyat Islam” sebagaimana di Belanda ada Partai Rakyat Katolik (Katholicke Volks Partij, KVP). Melalui pemungutan suara, nama Masyumi meraih suara lebih banyak ketimbang PRI.

Maka resmilah wadah perjuangan politik umat Islam itu diberi nama Masyumi dengan catatan, nama itu bukan lagi singkatan dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia seperti di zaman Jepang, melainkan sebagai kata benda. Oleh karena itu lalu disebut “Partai Politik Islam Indonesia Masyumi”.

Dasar pertimbangan pembentukan Partai Islam Indonesia Masyumi dirumuskan oleh Kongres Umat Islam sebagai berikut:

"Bahwa perjuangan umat Islam Indonesia untuk menegakkan Agama Allah dan kedaulatan Negara Republik Indonesia hanya dapat dilakukan dengan sesempurna-sempurnanya dengan kebulatan tenaga dan himmah dari segenap Umat Islam Indonesia yang tersusun dan dikerahkan dalam satu badan perjuangan politik, maka Kongres memutuskan bahwa badan perjuangan politik ini diciptakan sebagai penjelmaan dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang sampai sekarang (artinya sampai saat diselenggarakan Kongres Umat Islam) merupakan satu pusat permusyawaratan Umat Islam Indonesia menjadi satu-satunya Partai Politik Islam Indonesia yang bertujuan: 1. Menegakkan kedaulatan Republik Indonesia dan Agama Islam. 2. Melaksanakan cita-cita Islam dalam urusan kenegaraan.

Kongres menghasilkan susunan lengkap Pengurus Besar Partai Masyumi, sebagai berikut:
A. Majelis Syura (Dewan Partai)
1. Hadratus Syaikh K.H. M. Hasjim Asj’ari (Ketua Umum);
2. Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Muda I);
3. K.H.A. Wahid Hasjim (Ketua Muda II);
4. Mr. Kasman Singodimedjo (Ketua Muda III).

Anggota-anggota:
1. K.H.M. Adnan;
2. Haji A. Salim;
3.K.H. Abdul Wahab;
4. K.H. Abdul Halim;
5. K.H. A. Sanusi;
6. Syaikh Djamil Djambek, dan beberapa puluh Kiai serta pemuka-pemuka Islam lainnya.       

B. Pengurus Besar:
1. Dr. Soekiman Wirjosandjojo (Ketua);
2. Abikusno Tjokrosujoso (Ketua Muda I);
3. Wali Alfatah (Ketua Muda II);
4. Harsono Tjokroaminoto (Sekretaris I);
5. Prawoto Mangkusasmito (Sekretaris II);
6. Mr. R.A. Kasmat (Bendahari).

Pimpinan Bagian:
Bagian Penerangan: Wali Alfatah
Bagian Barisan Sabilillah dan Hizbullah
K.H. Masjkur; H. Wondoamiseno; H. Hasjim; Sulio Adikusumo.

Bagian Keuangan:
Mr. R.A. Kasmat; R. Prawiro Jawono; H. Hamid BKN.

Bagian Pemuda
Mhd. Mawardi; Harsono Tjokroaminoto.

Anggota-anggota:
K.H.M. Dahlan; H.M.F. Ma’ruf; Junus Anis; K.H. Faqih Usman; K.H. Fatchurrachman; Dr. Abu Hanifah;
Mohammad Natsir; S.M. Kartosuwirjo; Anwar Tjokroaminoto; Dr. Samsuddin; Mr. Mohd. Roem.
Selanjutnya, bacalah Biografi Mohammad Natsir Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan.[]

Tinggalkan Komentar