telusur.co.id -PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus mengakselerasi penguatan logistik nasional melalui modernisasi fasilitas operasional dan penambahan alat bongkar muat mutakhir. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu meningkatkan efisiensi layanan serta mendorong volume kunjungan kapal secara bertahap di Pelabuhan Tanjung Perak.
Dalam forum dialog di Gedung Administrasi TPS akhir bulan lalu, Direktur Utama TPS, Wahyu Widodo, bersama jajaran direksi dan Ketua DPW Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, membahas peta jalan transformasi terminal tersebut. Salah satu kebijakan yang diambil adalah realokasi sebagian unit Container Crane (CC) ke Terminal Berlian guna memeratakan distribusi layanan di kawasan pelabuhan.
Ketua DPW ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menyambut positif pembaruan ini. Ia menilai kehadiran alutsista pelabuhan yang mayoritas merupakan unit baru akan berdampak langsung pada performa lapangan. Selain alat bongkar muat, TPS juga telah mengoperasikan fasilitas tambahan seperti area fumigasi dan alat pemindai (scanner) ekspor-impor yang terintegrasi.
“Pembaruan fasilitas ini memberikan angin segar bagi para pelaku logistik. Hampir seluruh peralatan bongkar muat kini merupakan unit baru yang siap mendukung proses pelayanan secara optimal,” ujar pria yang akrab disapa Wibi tersebut.
Ia juga mengapresiasi ritme kerja TPS yang dinilai semakin solid dalam menjaga kelancaran arus barang di Jawa Timur.
Di sisi lain, manajemen TPS menegaskan bahwa modernisasi fisik harus dibarengi dengan keterbukaan informasi. Wahyu Widodo menjelaskan bahwa seluruh aktivitas operasional kini dapat dipantau oleh pengguna jasa secara langsung.
“TPS berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang transparan, modern, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna jasa. Melalui website resmi TPS (web access), seluruh aktivitas operasional dapat dipantau secara real time,” tegas Wahyu.
Menghadapi periode Ramadan dan Lebaran, Direktur Operasi TPS, Noor Budiwan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan strategi pengendalian antrean dan penyesuaian pola kerja. Hal ini mencakup pengaturan ritme kerja saat waktu sahur dan berbuka puasa guna memastikan operasional tetap berjalan tanpa hambatan.
“Berkat komunikasi yang intensif dan koordinasi antarpihak, jumlah keluhan eksternal menurun signifikan. Selain itu, pemantauan terhadap forecast ekspor dan impor dilakukan secara berkala untuk memastikan fleksibilitas penggunaan area Container Yard (CY), baik inbound (peti kemas masuk) maupun outbound (peti kemas keluar),” jelas Noor.
Terkait pengadaan alat, Noor merinci bahwa TPS telah menerima 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) yang didatangkan dalam tiga tahap. Saat ini, empat unit telah beroperasi penuh, sementara sepuluh lainnya akan segera menyusul.
“Pada akhir bulan April nanti, TPS juga akan kedatangan 4 CC yang baru yang rencananya akan dioperasikan pertengahan tahun 2026,” tambahnya.
Investasi besar pada aspek infrastruktur ini diharapkan dapat mempersingkat waktu sandar kapal (berthing time) serta memperluas kapasitas penanganan terminal (terminal handling capacity), yang pada akhirnya menekan biaya logistik bagi para pelaku usaha.



