Sesepuh PPP Dorong Munaslub, Internal Partai Ka'bah Panas Lagi - Telusur

Sesepuh PPP Dorong Munaslub, Internal Partai Ka'bah Panas Lagi

Ilustrasi. Foto : istimewa

telusur.co.id - Kemarahan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) atas pernyataan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa yang menyinggung perasaan kiai dan ulama semakin besar. Kader dan sesepuh PPP pun mendesak agar Suharso mengundurkan diri dan menggelar Muktamar Luar Biasa (Munaslub) PPP.

"Menuju Muktamar Luar Biasa PPP," ungkap Sesepuh PPP, Nizar Dahlan dalam keterangan tertulisnya, Jumat.

Mantan anggota DPR itupun membeberkan alasan kenapa PPP harus Munaslub, karena melihat kondisi PPP yang sekarang sudah tidak lagi dapat diharapkan untuk mengawal kepentingan ummat karena Kepemimpinan yang dipegang oleh Suharso Monoarfa.

Nizar juga mengajak pemilik mandat berdirinya PPP yaitu 4 unsur Partai Islam yaitu Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI) Agar mendesak kepada Suharso Monoarfa untuk menyelenggarakan Munaslub. 

"Suharso Monoarfo mundur secara baik-baik daripada dimundurkan atau diperkarakan karena ulahnya menghina Kiai yang dianggap menerima amplop sebagai bentuk korupsi."

Suharso Monoarfa, lanjutnya, dengan jiwa besar segera melakukan Munaslub dan mundur secara baik-baik sebagai Ketua Umum PPP daripada mendapat malu dan merusak keutuhan PPP dalam perpolitikan Indonesia. "Adapun Suharso Monoarfa sebagai anggota Kabinet, itu urusan Hak Prerogatif Presiden. PPP tidak usah ikut campur," ujarnya. 

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarfa menyinggung soal amplop dan kiai dalam acara Pembekalan Antikorupsi Politik Cerdas Berintegritas (PCB) di Gedung ACLC KPK, Jakarta, pada (15/8) mengundang kontroversi di publik. 

Suharso menceritakan pengalaman amplop ini bermula ketika dirinya menjabat Plt Ketum PPP. Saat itu, ia mengaku kerap menjalin komunikasi dan silaturrahmi dengan para kiai di pondok pesantren. "Saya datang ke kiai dengan beberapa kawan, lalu saya pergi begitu saja," kata Suharso, menceritakan. [ham]


Tinggalkan Komentar