Sistem Tata Niaga Tembakau Runyam, Gus Lilur Usul Pengembangan Ribuan Pabrik Rokok UMKM - Telusur

Sistem Tata Niaga Tembakau Runyam, Gus Lilur Usul Pengembangan Ribuan Pabrik Rokok UMKM

Founder & Owner Barong Grup, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy saat di Cloud9KL, Kuala Lumpur, Malaysia (doc: Facebook 13/3/2026)

telusur.co.id - Founder & Owner Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG) Grup, HRM. Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy membeberkan persoalan tata niaga tembakau nasional yang dinilainya masih belum berpihak pada petani.

Gus Lilur, sapaan akrabnya, ia menjelaskan, industri tembakau Indonesia memiliki skala besar dan terus berkembang, namun belum sepenuhnya menghadirkan keadilan bagi para petani sebagai pemasok utama bahan baku. 

“Ada sesuatu yang tidak beres dalam industri tembakau Indonesia. Industri ini besar, tetapi belum adil. Ia tumbuh, tetapi belum merata. Kekayaan tercipta, namun belum sepenuhnya mengangkat kesejahteraan petani,” ujar Founder GP Sakera ini pada keterangan tertulisnya. Senin, (30/3/2026).

Kader muda NU menuturkan, selama ini terdapat jarak yang cukup lebar antara pelaku industri dan petani tembakau. Jarak tersebut bukan hanya secara geografis, tetapi juga menyangkut struktur dan sistem yang berjalan. 

Pengusaha pegiat filantropi ini menambahkan, petani selama ini masih berada pada posisi yang lemah dalam rantai produksi. Meski berperan penting dalam proses penanaman hingga panen, petani belum memiliki kendali terhadap harga dan standar pembelian yang kerap dianggap kurang transparan.

“Petani hadir dalam rantai produksi, tetapi belum menjadi penentu. Ini yang perlu kita benahi bersama,” tegas Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) ini.

Menurutnya, kondisi sejumlah daerah penghasil tembakau, seperti Madura, yang memiliki kontribusi besar terhadap industri namun masih menghadapi tantangan kesejahteraan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan sistem secara menyeluruh.

“Persoalan utama bukan terletak pada petani, melainkan pada sistem tata niaga yang belum memberikan nilai tambah secara merata,” papar alumni aktivis HMI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat ini.

Barong Grup mendorong adanya perubahan mendasar melalui pembangunan industri dari bawah. Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah pengembangan ribuan pabrik rokok skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah penghasil tembakau.

Alumnus santri Denanyar, Jombang ini menilai, keberadaan pabrik rokok UMKM yang dekat dengan sentra produksi akan memperpendek rantai distribusi dan membuka peluang harga yang lebih adil bagi petani.

“Ketika industri tumbuh dekat dengan petani, maka hubungan keduanya akan lebih seimbang. Petani bisa mendapatkan harga yang lebih layak, sementara produk yang dihasilkan tetap kompetitif dan terjangkau,” tandas pengusaha asal Situbondo ini.

Ia juga menilai, pendekatan tersebut dapat menjadi solusi untuk menciptakan keseimbangan pasar, sekaligus menekan potensi peredaran rokok ilegal dengan menghadirkan produk legal yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Owner BALAD Grup ini juga optimistis bahwa, jika model ini dikembangkan secara luas, maka industri tembakau nasional akan menjadi lebih inklusif, merata, dan berkeadilan.

“Ini bukan sekadar gagasan, tetapi langkah nyata untuk membangun ekosistem industri yang lebih sehat. Petani harus menjadi subjek utama, bukan sekadar pelengkap,” tutur Founder & Owner Rokok Bintang Sembilan (RBS) ini.

Terakhir, Gus Lilur berharap, tercipta sistem industri tembakau yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan sosial serta meningkatkan kesejahteraan petani sebagai fondasi utama sektor ini. (ari)


Tinggalkan Komentar