telusur.co.id - Ketua Umum DPP Jarnas Mileanies, Muhammad Ramli Rahim menganggap survei yang dirilis oleh Center for Political Communication Studies (CPCS), terkesan menyerang dan menyudutkan Anies Baswedan.
Survei CPCS itu menunjukkan bahwa elektabilitas NasDem anjlok setelah menetapkan Anies Baswedan sebagai kandidat capres. Elektabilitas partai Surya Paloh itu merosot tajam menjadi 2,1 persen. Alasannya, keputusan mengusung Anies sebagai capres yang membuat Nasdem ditinggal oleh sebagian pemilih nasionalis.
"Kesimpulan CPCS jelas merupakan logika sesat dan sangat tendensius menyerang Anies," kata Ramli dalam keterangannya, Senin (8/8/22).
Ramli mengatakan, jika pun berhitung pada pemilih nasionalis, kesimpulan CPCS juga tidak nyambung karena elektabilitas PDIP naik dari 18,1 persen menjadi 19,5 persen. Sementara elektabilitas Gerindra dari 8,8 persen naik menjadi 13,2 persen.
Jadi, kenaikan elektabilitas PDIP dan Gerindra sebesar 5,8 persen, sementara elektabilitas Partai NasDem hanya turun 1,9 persen.
"Ini artinya, turunnya elektabilitas Partai NasDem tidak sebanding dengan kenaikan elektabilitas PDIP dan Gerindra, jika berhitung pergeseran suara pemilih nasionalis," ujarnya.
Tampaknya, lanjut Ramli, CPCS sangat bernafsu membawa Anies ke sudut kanan dan mengupayakan cap radikal dan Islam garis keras.
"Ini seolah terlihat ada hubungan-hubungan antara demo dukungan FPI palsu, lalu Deklarasi Majelis Sang Presoden di Hotel Bidakara Jakarta dengan apa yang diumumkan oleh CPCS," kata Ramli menduga.
Bagi Ramli, lima tahun memimpin DKI Jakarta, terlihat jelas nasionalisme Anies Baswedan.
"Visi membangun dengan pola gagasan, narasi dan karya telah membuat Jakarta berubah sangat maju," tukasnya.
Sebelumnya, elektabilitas Partai NasDem disebut menurun akibat mendukung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menjadi calon presiden. Hal itu terungkap dalam hasil survei yang dilakukan lembaga CPCS.
Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta mengatakan, elektabilitas Partai NasDem turun menjadi 2,1 persen dalam survei terbaru yang mereka lakukan pada 22-27 Juli 2022. Padahal, pada survei April 2022, NasDem itu disebut memiliki elektabilitas mencapai 4,0 persen.
“Keputusan mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden membuat NasDem ditinggal oleh sebagian pemilih nasionalis,” kata Tri Okta dalam keterangan tertulis yang dilansir Antara, Kamis (4/8/22).
Survei CPCS ini dilakukan pada 22-27 Juli 2022 dengan jumlah responden 1.200 orang mewakili 34 provinsi yang diwawancarai secara tatap muka. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.[Fhr]



