telusur.co.id -JAKARTA - Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menggelar sosialisasi program beasiswa S1 bagi pengasuh TPA (Tempat Penitipan Anak) dan TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak). Senin, (23/2/2025).
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti kurang lebih 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Program ini ditujukan bagi para pengasuh TPA/TAMASYA yang belum memiliki kualifikasi sarjana (S1), sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan profesionalisme layanan pengasuhan anak usia dini.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, SE., MT., dalam sambutannya menegaskan bahwa anak usia dini merupakan fondasi utama pembangunan SDM Indonesia.
Menurutnya, pada periode emas (golden age), kualitas pengasuhan sangat menentukan tumbuh kembang anak, mulai dari aspek kesehatan, gizi, stimulasi, pembentukan karakter hingga kesiapan belajar.
Ia menjelaskan bahwa hingga Januari 2026 terdapat 3.330 TPA/TAMASYA dengan 11.602 pengasuh di seluruh Indonesia. Karena itu, peningkatan kompetensi pengasuh menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi bangsa.
“Pengasuh bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi pendidik pertama di luar rumah yang membentuk dasar karakter anak. Program beasiswa S1 ini membuka akses pendidikan tinggi untuk memperkuat profesionalisme mereka,” ujarnya.
Rektor UICI Prof. Asep Saefuddin menyampaikan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan Menteri Kemendukbangga/Kepala BKKBN serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama yang telah dilakukan sebelumnya.
“Kami sepakat bahwa Indonesia ke depan harus dibangun oleh SDM yang kokoh. Masa depan harus dipersiapkan dari hari ini,” kata Prof. Asep.
Ia juga menekankan pentingnya membangun keluarga yang sehat dan kuat sebagai basis kemajuan bangsa.
Sebagai bentuk komitmen, UICI menyediakan 100 beasiswa S1 bagi pengasuh TPA/TAMASYA yang belum menempuh pendidikan sarjana.
Prof. Asep menegaskan bahwa UICI sebagai universitas digital dengan semangat reaching the unreachable memungkinkan para pengasuh tetap bekerja sambil kuliah secara fleksibel.
“Teman-teman tetap bekerja, tetapi belajar bisa fleksibel. Kuliah di mana saja, kapan saja bisa dilakukan,” sebutnya.
Sosialisasi teknis program disampaikan oleh Kepala Lembaga Penerimaan Mahasiswa Baru UICI, Okky Irmanita, yang menjelaskan bahwa penerima beasiswa akan mendapatkan pembebasan biaya UKT hingga lulus dengan persyaratan rekomendasi dari BKKBN Provinsi atau Dinas KB Kabupaten/Kota.
Melalui kolaborasi ini, UICI dan Kemendukbangga/BKKBN berharap kualitas layanan pengasuhan anak usia dini semakin meningkat dan akses pendidikan tinggi bagi para pengasuh semakin terbuka luas. (ari)



