ABG Bunuh Bocah 5 Tahun Terinspirasi Film Horor, KPAI: Warning Bagi Orang Tua  - Telusur

ABG Bunuh Bocah 5 Tahun Terinspirasi Film Horor, KPAI: Warning Bagi Orang Tua 


telusur.co.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut berduka cita atas peristiwa pembunuhan dilakukan oleh ABG N (15 tahun), terhadap bocah A (5 tahun) di Sawah Besar, Jakarta Pusat. 

"Saya juga menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban atas musibah ini," kata Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangannya, Minggu (8/3/20).

Retno menjelaskan, jika menyimak pada pengakuan pelaku bahwa perilakunya dipengaruhi oleh atau terinspirasi tontonan film "Chucky" dan "Slender Man", maka masyarakat dapat menyaksikan bersama bahwa media audio visual sangat kuat mempengaruhi perilaku seorang anak. 

"Anak adalah peniru ulung dari apa yang dia lihat langsung di lingkungannya atau dia lihat melalui tayangan di televisi dan film," tuturnya. 

Dikatakan Retno, media audio visual seperti tayangan televisi dan film dapat mempengaruhi sikap dan perilaku  penontonnya. Tayangan televisi dan film bersifat audio visual sinematografis memang memiliki dampak besar terhadap perilaku penontonya, khususnya bagi yang belum memiliki referensi yang kuat, seperti  anak-anak dan remaja. 

Meskipun, kata dia, dampak tayangan tersebut bukanlah factor tunggal, bisa saja ada factor lain yang memicu  perilaku delinkuen seorang anak.

Dijelaskannya, delinkuensi adalah tingkah laku yang menyalahi norma  dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sebagian besar dari jumlah anak-anak delinkuen berasal dari keluarga berantakan (broken home). Kondisi keluarga yang tidak bahagia dan tidak beruntung jelas membuahkan masalah psikologis personal danpenyesuaian diri yang terganggu pada diri anak-anak.

"Sehingga mereka mencari kompensasi di luar lingkungan keluarga guna memecahkan kesulitan batinnya dalam bentuk perilaku delinkuen," imbuhnya.

Retno melanjutkan, audio visual itu daya pengaruhnya ke anak cukup tinggi. Apalagi kalau anak menonton tanpa pendampingan dan edukasi orang dewasa. 
Sebab, mereka belum sepenuhnya paham duduk persoalan, pertimbangan belum matang, cenderung menelan mentah-mentah apa yang mereka tonton dan cenderung meniru apa yang mereka anggap keren. 

Oleh karena itu, tutur Retno, di sinilah pentingnya para orangtua untuk melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap apa yang ditonton anak-anak mereka, baik melalui televisi maupun aplikasi youtube, mengingat mayoritas anak sudah memiliki telepon genggam. 

Kendati demikian, Retno juga menganggap, kesalahan seorang anak tidak berdiri sendiri. Ada factor lingkungan yang mempengaruhinya. 

Pengasuhan yang positif dan Kepekaan orang dewasa disekitar anak sangat diperlukan, karena anak biasanya menunjukan tanda-tanda yang dapat dikenali ketika memiliki masalah.  

Misalnya, perilaku anak pelaku yang pernah menyakiti hewan, dari gambar-gambar yang dibuat anak pelaku, dan lain-lain. 

"Andai orang dewasa di sekitar anak dapat memiliki kepekaan maka si anak dapat dibantu rehabilitasi psikologisnya, sehingga perilaku delikuensinya dapat di atasi, bahkan dihilangkan," ucap dia. 

Menurut Retno, anak pelaku sebenarnya memiliki potensi yang dapat dimaksimalkan untuk membangun kepercayaan diri dan menumbuhkan penghargaan terhadap dirinya. Karena yang bersangkutan berprestasi olahraga tenis meja dan jago menggambar. 

"Sayangnya potensi ini tidak dimaksimalkan oleh lingkungannya, di sekolah misalnya.  Pihak sekolah, seperti wali kelas dan guru Bimbingan Konseling semestinya juga memiliki kepekaan untuk menangkap perilaku delikuen si anak sehingga dapat menolongnya untuk mendapatkan bantuan psikologis," tukasnya.[Fhr]


Tinggalkan Komentar